-Echo Earrings. . -
Hari demi hari, kaname selalu
datang ke pondokku, terkadang bersama Amane. namun tidak sedikitpun Kaname
menyadari bahwa Amane ialah adik perempuannya. Kaname ialah seorang penjelajah,
ia menceritakan hampir seluruh perjalanannya kepadaku dan amane. Hingga pada
suatu malam. .
“reika san. . “ kata amane
“hm? Ada apa amane?” tanyaku
sambil merapikan rambut panjangku
“Kakak tidak dapat berhenti
memperhatikanmu semenjak tato itu menghilang lagi dari wajahmu. .” katanya
sambil tertawa
Seketika pipiku memerah dan
mataku agak terbelalak.
“a. .amaneee. . t. .tidak
mungkin tuan Kaname begitu . .” kataku
“lalu kenapa wajahmu memerah
begitu?” katanya sambil merapikan peralatan makanku.
“hnnng. .t. tidak. .tidak. .”
kataku sambil menutupi wajahku. .
IYA. . aku menyukai Kaname. .
semenjak awal kita bertemu, aku tidak menyangka kalau pria itu adalah kaname.
Aku terus menerus memikirkan kejadian pertemuan pertama kami berdua, tentang
bagaimana ia menyapaku, bagaimana ia bercerita tentang apa saja kepadaku.
“reika. . reika?. . .Reika!!”
“u. uh. .huh? a. amane. .ya?”
kataku
“pfft. . sudah kuduga, kamu
menyukai kakakku. .aku pergi dulu ya, sampai bertemu esok hari. . buruk rupa.
.” kata amane sambil tertawa puas menggodaku
“h. hey!! Awas kamu amane. .
haha. .” kataku .
Semakin hari, kami semakin
pun semakin dekat, . .
“h. . hey reika. . itu remah roti tersangkut di bibirmu” kata kaname
“e. . eeh..m. mana?” kataku
sambil menggigit rotiku
Kaname mengambil sebuah kain
dari sakunya dan membersihkannya dari bibirku.
“nah. . sudah . . makan itu
harus pelan pelan. .” katanya sambil tertawa
“huuh. .”
“hm? Apa yang aku bilang
kalau andaikan buruk rupa tersenyum?” katanya
“iya iya iya. . nih. .”
kataku sambil tersenyum kepadanya. .
“. . . k. .kamu. . memang
benar. . cantik. .” kata kaname perlahan
“hm. E. eh?”
Pipiku langsung memerah
sampai aku menghentikan makanku.
“a. .apalagi kalau pipimu
sudah memerah seperti itu. .” kata kaname
“hnnng. . .s. .
sudah. .” kataku sambil dengan cepat memalingkan wajahku
Semakin hari, kaname semakin
mendekatiku. Suatu hari ia membawakanku serangkaian bunga setelah aku bercerita
padanya kalau aku menyukai bunga. Segala sesuatu tentang dirinya, aku tuliskan
di sebuah buku kecil berwarna biru tua dengan hiasan bunga kehitaman, juga
pemberian dari kaname.
*kiss*
“hnn. . “
“hm? A. .apa? itu hanya
sebuah kecupan di dahimu. .” kata kaname
“t. .tapi. .” kataku sambil
menangkat wajahku yang kini dipenuhi tato lagi.
“shhh. . atau belum cukup?”
kata kaname
“hnnn. .b. bukan itu. .tap.
.”
*kiss*
Wajah kami sangat berdekatan.
. detak jantung kami serasa berhenti, semua terasa sunyi, bahkan udara pun
sepertinya telah meninggalkan pondok itu. Kurasakan perasaan aneh, namun hangat
di sekitar bibirku.
Untuk beberapa saat aku
membuka lebar mataku, belum tersadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Aku
menatap wajahnya. Ia menutup matanya sambil memegang dagu dan pipiku.
“hh. .hhh. .”
“hnn. .”
Aku terdiam sesaat sambilkan
memalingkan wajahku yang merah padam akibat tingkah kaname.
“hmmh. . k. . kamu terlalu
berisik sih. . “ kata kaname sambil tersenyum manis kepadaku
“. . .”
“lhooo?? Kok jadi diam ?”
katanya mulai menggodaku lagi
“. . d. . diam kamu. .”
kataku sambil mencibir ke arahnya
Malam itu merupakan malam
yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku Telah jatuh cinta, dan aku
yakin begitu pula dengan kaname. Semenjak hari itu, kami semakin akrab dan
dekat, hampir setiap waktu kaname habiskan untuk mengunjungiku di pondokku.
Hingga pada akhirnya. Setelah
hampir setahun kami bersama, sudah saatnya untuk keluarga ototsuki untuk
pulang. Hari itu mungkin akan menjadi hari dimana aku akan bertemu kaname untuk
terakhir kalinya. Karena Kuil Kuze tidak dapat menerima pria dengan alasan
apapun untuk menjajakan kaki di kuilnya.
“reika . .”
“aku tau kaname. . aku tau.
.” kataku sambil meneteskan air mata
“maafkan aku. . . “ katanya
sambil menjulurkan tangannya ke dalam
jeruji untuk meraih pipiku.
“tidak apa apa. . aku
mengerti. .memang tidak akan pernah ada kita. .hiks. .”
“amane. . amane . .tolong
bukakan kunci ini. .aku ingin masuk ke dalam. .” kata kaname
“sshhh. . tidak ada waktu
lagi. . kamu harus segera pergi. .
sebelum master Yashuu curiga. .” kataku
“hmph. . a. aku akan pergi. .
tapi tunggu. . aku ingin memberikanmu sesuatu. .” kata kaname
Kaname memasukkan tangannya
ke sakunya dan menunjukkan 2 buat batu berbentuk paku kecil dengan ukiran ular,
persis seperti yang kutemukan pada jasad Kei.
“ayahku bilang. . anting ini
ialah pemberian dari ibuku. . ibu kandungku. . dimanapun dia berada sekarang,
aku tidak tahu. Namun dengan anting ini, ibuku akan selalu mengenaliku, dan
sejauh apapun aku pergi, ibuku akan selalu merasa dekat denganku.” Kata kaname
sambil memberikan sebuah anting kepada reika.
“h. huh? Tapi kaname. .ini
adalah pemberian ibumu. . kenapa aku?” kataku,
Aku terpaksa menyembunyikan
identitas nona Kyouka dari Kaname, karena aku juga tidak ingin nona Kyouka
terkena masalah apabila nantinya kaname mencoba menemuinya di kuil.
“tenang saja reika . .aku
masih memegang bagian satunya. . dengan ini. . seberapa jauhpun aku pergi, kita
akan selalu merasa dekat. . dan dengan ini, akan selalu menjadi bukti. . kalau
kamu adalah milikku. . dan hanya milikku. .” katanya sambil menepuk pipiku
“h. hnng. .ka . kamu memang
selalu berkata kata manis seperti itu” kataku sambil tersenyum kepadanya.
“hehe. . setidaknya aku
seperti in hanya untukmu. .” katanya
“kemari. . aku juga punya
sesuatu untukmu. .” kataku sambil menempelkan hidungku pada jeruji kandangku
“huh? Apa itu reika?” katanya
“sshh. . sudah sekarang tutup
matamu. .” kataku
Tanpa bertanya Tanya lagi
kaname langsung menutup kedua bola matanya. Dengan cepat aku menarik pipinya
mendekati jeruji kandangku,. .
*kiss*
Kali ini kaname membuka
matanya lebar, sedangkan aku menutup mataku sambil terus memegangi pipinya.
“hh. .h. hey. .” katanya
dengan wajah memerah
“hehe. . pembalasan” kataku
sambil tersenyum kepadanya
Kaname hanya bisa tersenyum
melihat tingkah lakuku. Dia kembali meraba pipi dan rambutku.
“aku akan merindukanmu. .
sangat merindukanmu. . reika. .” katanya
“aku. .akan selalu ada dalam
mimpimu. . panggil namaku sebelum kamu tidur. .maka aku akan berada disana. .”
kataku
“akan selalu kulakukan. .
ingat. . jangan hilangkan anting itu. . simpan selalu okay?” kata kaname sambil
merapikan rambut dan mengangkat barang bawaannya
“akan selalu kubawa. . sampai
kamu kembali. . . kaname kun”
Dia terseyum kepadaku untuk
terakhir kalinya sebelum akhirnya sosok pria yang kucintai itu, menghilang
dibalik pintu pondok tersebut.
Hari demi hari kulewati. .
kembali seperti sebelumnya. . aku menceritakan semuanya kepada Amane, kalau
kaname pun sebenarnya tidak tahu bahwa kyouka adalah ibu kandungnya sendiri.aku
selalu berdoa, memohon untuk kaname agar kembali menemuiku. . sebelum pada
akhirnya kusadari. .waktuku tidak lama lagi. .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar