-The Other Side –
“haah. . hah. .”
Aku terbangun dan tepat ada di kolam air dangkal
dengan rumah batu, dimana reika di seret masuk kedalam oleh para pendeta untuk
menyelesaikan ritualnya.
“R..Reika… Reika san “ kataku
Aku terus berteriak mencari reika, tapi tidak ada
suara sama sekali di sini. Aku berjalan masuk kedalam rumah batu itu mencari
reika ternyata tempat itu masih sama dengan kejadian ritual reika tidak ada
yang berubah sama sekali
*cring* *cring*
Ruangan rumah batu itu kini berubah menjadi seperti
zaman dahulu, aku terdiam di jalan masuk tempat itu sambil terus mencari reika.
“apakah aku masuk lagi ke masalalu reika “ pikirku
Sambil terus berjalan masuk kedalam, Tiba tiba di
depanku ada seorang laki – laki berkimono gelap membawa lentera biru.
“siapa laki laki itu “ kataku
“bukankah di tempat ini dilarang ada laki – laki yang
masuk “
“atau i..itu ka..kaname”
“…”
Laki laki itu terus berjalan melintasi ratusan mayat
para tumbal ritual tato itu.
“Reika..Reikaa??” kata laki laki itu
Laki laki itu pada akhirnya berhenti tepat di tengah
tengah ruangan tersebut. Pria itu menengok ke arahku, dan saat itulah aku menyadari
bahwa itu adalah Kaname.
Kaname menunduk dan bersujud di depan seorang mayat.
Ia meletakkan lenteranya tepat di sebelah wajah mayat itu. Itu. .adalah. .
Reika. .
“Reika. . Reika. .” katanya
Aku dapat melihat reika secara perlahan menggerakkan kepalanya.
Kaname sempat terkaget dan menutup mulutnya ketika melihat darah yang
bercucuran dari paku paku yang menembus kedua telapak tangan dan kakinya. Reika
mengedipkan matanya sambil menatap pria yang ia cintai itu. Secara perlahan, ia
pun tersenyum lemas. Kaname menatapnya sambil secara perlahan membalas senyuman
reika.
“Reika..kamu tahu..di dalam mimpiku .. kamu selal…..”
Belum selesai kaname menyelesaikan pembicaraannya,
tiba tiba yashuu muncul di belakang kaname dengan pisau besar dan melayangkannya
ke leher kaname.
*Sruuddrt*
“a. .a. .”
*Thud*
Tanpa meneruskan ucapannya kaname langsung yerjatuh lemas tepat di
hadapan reika. kaname terbaring lemas disana dengan tatapan kosong dari matanya
yang terbuka lebar. Reika terkejut dan langsung membuka matanya.
Setelah melihat kaname terbunuh di sana hati reika
yang awalnya kosong tanpa masalah apapun menjadi bermasalah. Nafas reika mulai
tidak teratur, ia terus berusaha memanggil kaname namun tidak satupun kata
keluar dari mulutnya yang tetap tertutup kaku.
“siapa yang mengijinkan pria ini masuk. . apakah salah
satu gadis pendeta itu. . pantas saja anak dengan rambut yang terikat itu
terlihat sangat mencurigakan. . . aku harus memberinya pelajaran” kata Yashuu
sambil memerintahkan Hisame, gadis pendeta yang tertua untuk menghukum Amane,
adik dari kaname.
Ritual Kuze yang semula berjalan lancar menjadi
berantakan, Hati reika yang semula sudah bersih oleh cermin ingatan itu kembali
terkotori oleh perasaan kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Semua
tato yang ada di tubuh reika perlahan keluar itu berarti ritual yang di jalani
reika gagal dan tato itu menjadi marah.
Tato itu langsung masuk ke tubuh yashuu, dan seketika itu pula yashuu mulai
tercekik dan terbunuh disana. Lalu tato itu bergerak ke arahku tapi ketika tato
itu tepat di depanku tato itu langsung menghilang. dan seluruh ruangan itu
kembali menjadi gelap, sama seperti sebelumya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Aku berlari menuju mayat
reika dan kaname, belum sampai aku ketempat reika dan kaname
Tiba tiba yashuu berada di depanku dengan pisau
besarnya yang masih berlumuran darah bekas membunuh kaname. Aku tersentak
sambil mulai membalikkan tubuhku, berusaha melarikan diri darinya.
Yashuu terus mengejarku sambil melayangkan pisau
besarnya ke tubuhku, aku berusaha menghidar sebisaku berlari kesana kemari di
dalam ruangan itu untuk menghindari yashuu.
“tiddaaak !!! jangan bunuh aku …!!” kataku sambil
terus berlari
“aku mohon jangan lakukan itu !!!” teriaku.
Tapi yashuu
tidak mendengar ucapanku dengan penuh amarah dia terus mengejarku sambil
menusukan pisaunya, lalu pisau besar itu mengenai pinggangku. Aku langsung
terjatuh sambil memegangi pinggangku yang terus menerus mengeluarkan darah, aku
terpojok tidak berdaya.
Yashuu sekarang sudah berada tepat di depan mataku dan
sudah mengangkat pisaunya untuk dengan cepat menghabisi nyawaku. Saat pisau itu
ada di dekat leherku tiba tiba reika datang dan menarik jauh yashuu dari tubuhku dan melemparnya di
tengah ruangan itu.
Aku tidak bisa berbuat apapun untuk membantu reika,
untuk berdiri pun aku tidak bisa melakukannya aku hanya bisa melihat apa yang
dilakukan reika terhadap yashuu.
Reika menatap tajam ke arah yashuu yang sedang mencoba
untuk berdiri.
“mati kau …!!” kata reika
“akan aku bayar semua perbuatanmu pada kaname”
Reika habis habisan menyerang yashuu tanpa ampun, Yashuu
yang tidak berdaya hanya menerima tamparan dan pukulan dari reika yang terus
menerus berjalan sambil menyakitinya.
“Re. . ika. .”kata yashuu sambil terengah engah
“berani beraninya kamu menyakiti. . ibu angkatmu
sendiri. . pemimpin dari keluarga besarmu. . haah. .” katanya
Reika tidak menghiraukan itu sama sekali dia tetap
memukuli yashuu yang terlihat mulai kehabisan tenaga itu. Reika menggenggam
yashu dengan kedua tangannya dan mengangkatnya di udara.
“ugh. Uhuk. .re. .ika. .jangan. . “kata yashuu sambil
menggenggam tangan reika di lehernya.
Reika tetap mencekik yashuu dengan kuat. yashuu yang
sudah tidak berdaya untuk melawan reika akhirnya semakin lama, semakin melemas
dan pada akhirnya ia tidak bergerak lagi dan menghilang dari ruangan itu.
“haah. .re. .reika. .” kataku perlahan sambil melihat
kejadian itu
Reika membalikkan tubuhnya kearahku, ia pun secara
perlahan menunjuk ke arah mayat tulang belulang yang mengenakan pakaian sama
dengan yashuu.
“rei. . . cermin. .hancurkan. .” kata reika sebelum
akhirnya tubuhnya menghilang di kegelapan
“. . .i. .iya reika. .” kataku
Aku yang mengetahui bahwa cermin itu menyegel semua
memori reika, harus dapat menghancurkannya untuk membebaskan reika, beserta
seluruh tumbal ritual yang juga tersegel di dalamnya. Aku mengambil cermin itu
dari saku pakaian yashuu yang kini sudah terbaring tak berdaya.
Aku memandang sekitarku untuk mencari sesuatu untuk
menghancurkan cermin itu, tiba tiba lentera di dekat mayat reika dan kaname itu
bersinar dengan terang.
“uh. . l. .lentera itu?” kataku sambil menutupi mataku
karena silau
Aku berjalan ke arahnya sambil memegangi pingganku
yang terluka lumayan parah. Sesampainya disana aku segera mengangkat lenteraitu
sambil melihat ke arah reika dan kaname.
“ayo. . kita selesaikan ini. . dan terima kasih. .
kamu sudah melindungiku beberapa kali sebelumnya. .” kataku kepada lentera itu.
Dengan keras aku membanting cermin itu ke tanah dan
memukulkan lentera itu kea rah cermin itu dengan keras sampai kedua benda itu
terpecah belah.
*crack*
*cring* *cring*
“haah? Hah.. haah. .”
Aku tersadar kembali. . aku melihat di sekitarku, aku
masih berada di ruangan itu, namun aku sempat terkaget ketika melihat ruangan
itu tiba tiba kosong hanya menyisakan tubuh reika dan kaname yang masih
terbaring di tempat yang sama dengan mata yang terbuka.
Aku menatap mata reika yang semula berwarna hitam
seluruhnya, perlahan lahan kembali ke seperti semula, sama seperti reika
biasanya. Aku bersujud di depan tubuh mereka berdua sambil secara perlahan
menutup mata kaname dan reika.
“tenang saja. . kini kalian bisa menutup mata kalian
dengan tenang” kataku.
*cring* *cring*
“hah. .hah. .”
Ruangan itu seketika berubah seperti sebuah lautan
yang sangat luas dengan angina yang bertiup dengan kencang. Aku menyadari di
dekat kakiku sudah terdapat sebuah kapal dengan tubuh reika dan kaname di
dalamnya.
“pergi ke dunia seberang. . pergi ke dunia seberang. .
persiapkan perahumu. . naiklah. . sebrangi lautan itu. . ke sisi satunya. .”
Suara reika kembali terdengar di kepalaku, dengan
secara tanpa sadar, aku mendorong perahu itu menuju lautan lepas.
“h . huh. .dunia. . seberang. .” pikirku
Aku terus memandangi perahu reika dan kaname yang
semakin lama semakin menjauh dari pesisir pantai tersebut. Dan secara tiba
tiba, aku melihat beberapa bayangan bayangan hitam yang berwujud seperti
manusia,berjalan di atas lautan itu sambil mengikuti perahu reika.
Belum sempat aku bertanya pada diriku sendiri, tiba
tiba aku melihat amane di antara mereka dan ia pun menatapku sambil tersenyum.
.
“terima kasih. . Rei san. .” katanya sambil tersenyum
kemudian berbalik badan dan kembali melangkah menjauhiku.
“a. .amane tunggu. .” kataku
Amane tidak lagi menghiraukan ucapanku dan tetap terus
melangkah. Tiba tiba aku merasakan ada seorang yang memeluk kakiku, dengan
cepat aku menengok kebawah dan ternyata itu adalah kozue.
“kak rei . . hehe. . terima kasih . .” katanya sambil
tersenyum gembira
“kozue. . kita harus cepat menyusul”
Aku dapat melihat ibunya memanggil di kejauhan sambil
melambaikan tangannya kepadaku. Aku secara otomatis tersenyum kepada kedua
pasangan ibu dan anak itu sambil melambaikan tanganku kembali.
“hey. .”
Mataku terbuka lebar ketika mendengar suara itu
diteruskan dengan sebuah tangan yang memegang pundakku dari belakang. Sesosok
pria muncul di sebelahku dan berpindah ke depanku.
“k. . kei. .” kataku sambil menundukkna kepalaku.
“terima kasih ya. . tolong sampaikan maafku kepada
mio. . aku harap kamu dapat bertemu dengannya..” kata kei sambil tersenyum.
Kei pun kembali membalikkan tubuhnya dan ikut berjalan
bersama ratusan bayangan bayangan itu.
Aku tersenyum melihat semua bayangan itu, merasa
semuanya telah berhasil aku selesaikan, namun. . di tengah tengah semua
bayangan yang berjalan menjauhiku itu, aku melihat Yuu. .
Dengan reflek yang cepat, aku segera berlari
mengejarnya. Seketika aku berlari, tato di tubuhku kembali menyebar dengan
cepat sampai memenuhi seluruh tubuhku.
“Yuu!!! Yuu!!! Jangan pergi!!” kataku sambil berlari
mengejarnya
“jangan tinggalkan aku kali ini. . . tolong. .”
“aku ingin. .hiks. pergi bersamamu. .”
Daratan disana semakin lama semakin menurun sampai aku
kesusahan berlari disana. Namun aku dapat melihat Yuu yang sudah berbalik arah
memandangiku. Aku menatap matanya sambil menjatuhkan air mata.
“Yuu. . kamu selalu ada untukku. .”
“tidak peduli apapun. . hiks. . kamu sudah
memberikanku segalanya. .”
“karena kamu. . selalu bersamaku. . hiks”
Aku menundukkan kepalaku sambil menangis, sebelum aku
merasakan tangan yang mulai mengelilingi tubuhku dan memelukku dengan nyaman.
“hiks. . maafkan aku. . “ kataku sambil menangis di
pelukan Yuu
“kali ini. . aku akan ikut denganmu. .”
Aku membalas pelukan Yuu dengan erat.
“terima kasih. . .”
Suara Yuu membuatku mengangkat wajahku dan menatapnya.
“aku mengerti perasaanmu. . aku mengerti. . .namun,
aku harus pergi. . aku harus pergi sendiri. .” kata Yuu
Tiba tiba tato di tubuhku itu mulai bersinar terang.
Aku melihat tato itu menjalar dari tanganku, masuk ke dalam tubuh Yuu, sampai
keseluruhan tato itu berpindah ke tubuh yuu. Dan Yuu secara perlahan melangkah
mundur menjauhiku.
“. . . Yuu. .hiks” kataku sambil terisak
“ketika kamu. . meninggal. . maka aku akan menghilang
selamanya. . selama kamu terus melangkah kedepan. . untuk hidup. . sebagian kecil diriku. . akan selalu hidup. .
seterusnya. .” kata Yuu sebelum akhirnya seluruh ruangan itu menjadi gelap
seutuhnya.
*cring*
“oleh karena itu. . . aku membutuhkanmu. .untuk hidup”
Suara itu terngiang di kepalaku sambil bersamaan
dengan aku membuka kedua mataku. Memandangi ruangan yang setiap hari kulihat,
lengkap dengan cahaya matahari yang menembus jendela itu.
Aku berusaha untuk duduk, sambil memegangi pundakku
yang kini sudah tidak terasa sakit sama sekali akibat tato itu.
“Rei. . .”
Aku memandang sesaat ke arah pintu kamarku, dan
alangkah senangnya diriku, itu adalah miku yang juga masih mengenakan pakaian
tidurnya.
Dengan cepat aku berjalan ke arahnya dan memeluk tubuh
mungilnya.
“r. .rei. . a. .apa yang terjadi?” Tanya miku
keheranan
“semua. . sudah selesai miku. . sudah selesai. .”
kataku sambil kembali meneteskan air mataku.
-FIN-
1 komentar:
Posting Komentar