Minggu, 20 Juli 2014

the call of the tattoos part 16

-Brother. . . don’t Go. . .-

“rei. . apakah kita semua akan mati??” Tanya miku yang memandangi gelas berisikan air di depannya.

“miku. . .” kataku sambal menghela nafas panjang dan merangkulnya dari samping. .

“kau tahu. . aku juga sangat merindukan Yuu. . begitu pula Kei yang merindukan mio. .dan. . hmph. .mayu. .” kataku sambil menunduk

“a. .apakah benar. . mio terselamatkan?” Tanya miku. .

“aku. .aku tidak tahu miku. . namun. .  siapapun yang sudah meninggal. . akan tetap. . meninggal. .” kataku sambil mengelus rambut miku

“hiks. . mafuyu. . “ kata miku sambil kembali terisak dan memeluk tubuhku. .

“miku. . kamu harus beristirahat. . ini sudah sangat larut” kataku sambil mengangkat wajah miku

“t..tapi. . aku takut. . aku akan memimpikan mafuyu kembali. .” kata miku

“hmph. . hey. . kamu tahu, aku pergi ke mimpi yang sama dengan kei. . dan kami berhasil menyelamatkan mio dari kutukan di desa itu. . aku yakin apabila kita bertemu di rumah mimpi itu. . aku akan membantumu menyelamatkan mafuyu juga. .” kataku sambil menepuk pipi miku sambil tersenyum.

“. . .”

Miku mencoba menghapus air matanya dan tersenyum kembali kepadaku. Malam itu aku memutuskan untuk menuliskan tentang apa yang terjadi selama ini di catatan pribadiku, lengkap dengan barang barang hasil temuanku yang terbawa ke dunia nyata.

Aku mengangkat baling baling kayu milik kozue yang terbawa olehku. .

“haah. .  Reika. . sebenarnya apa yang ingin kamu tunjukkan kepadaku?” pikirku sambil memutar baling baling itu di tanganku. .

“  . . . K. kak reika. . kak reikaa???”

*cring* *cring*

“hah? . .a. apa?” kataku sambil membalikkan tubuhku. .

Aku melihat kozue yang tersenyum sambil menyodorkan tangannya, ingin meminta baling balingkayu itu kembali. Seluruh ruangan itu telah kembali menjadi sosok rumah tua itu.

“. . kak reika??” Tanya kozue sambil memiringkan kepalanya
“eh? i.  . iya kozue. .ini. .” kataku sambil memberikan baling baling itu.

“hihi terima kasih kak!” katanya

Kozue dengan segera berlari menjauhiku dan menghilang di kegelapan.

“haah. . tak kusangka aku seperti sedikit merindukan tempat ini. .” kataku sambil memegang kepalaku

Tanpa kusadari, aku telah menggenggam sebuah benda di tangan kiriku.

“ah. .lentera reika. .” pikirku sambil mengangkat lentera itu


Aku memutuskan untuk menjelajahi rumah itu. Ruangan demi ruangan, lorong demi lorong aku telusuri tanpa ada halangan. Setibanya aku di sebuah ruangan yang tampak familiar. Ruangan itu tampak seperti hais terbakar, dengan berbagai macam furniture yang rusak dan beberapa yang masih utuh namun berdebu.

“r. ruangan ini . . m. miku?” pikirku

Penampilan ruangan itu persis, dengan tempat dimana aku bermimpi bertemu dengan miku .  . dan mafuyu. .

“m. .miku?” kataku perlahan sambil berjalan menelusuri ruangan itu.

Aku berhenti di depan sebuah pintu. . pintu dimana miku dulu menabrakku. Secara perlahan aku membuka pintu tersebut.

“m. miku??” kataku berharap miku berada dibalik pintu tersebut. .

Namun aku terlalu berharap banyak, dibalik pintu tersebut terdapat sebuah lorong yang panjang dengan cermin di sisi kiri kanannya, dan tali yang sangat banyak bergantungan dari langit langitnya.

“r. ruangan apa ini?” kataku sambil memandangi tali tali yang bergelantungan di langit. .

“KAKAK!!!!!!!!!!!!!”

Sebuah teriakan terdengar dari dalam lorong tersebut . .

“M. . . MIKU!!” pikirku

Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera berlari menelusuri lorong itu, semakin lama suara miku semakin terdengar jelas. Aku juga dapat melihat pantulan cahaya dari ujung lorong tersebut.

Pada akhirnya aku menemukan miku, dia sedang terduduk di lantai tepat di tengah lorong tersebut sambil menundukkan kepalanya.

“m. . miku!!” teriakku sambil menghampirinya

“r. rei?? Rei?” kata miku sambil mengangkat wajahnya dan melihatku

Miku dengan cepat memeluk pinggangku sambil kembali menangis.

“reiiiiiiii!!! Syukurlah aku menemukanmu disini. .hiks. .” kata miku

“miku. . “ kataku sambil mengelus kepalanya.

Aku dapat melihat sebuah lampu senter tergeletak di lantai dekat tempat miku tadi terduduk.

“m. miku? Darimana kamu mendapat lampu itu?”  tanyaku

“ugh. . a. .aku tidak tahu rei. . “ kata miku sambil menghapus air matanya

Aku mengambil lampu senter itu. Senter itu tampak tua namun cahayanya masih dapat menerangi lorong panjang tersebut.

“ini. . sebaiknya kamu bawa ini miku. . aku merasa ini akan berguna nantinya” kataku

“i. . iya rei. . umm. . rei. .boleh kubertanya sesuatu?” Tanya miku

“tentu saja miku. . .” kataku sambil memandangi lenteraku yang terlihat meredup.

“kamu. . datang darimana?” Tanya miku
“eh? Tentu saja. .dar. . i. . “

Kata kataku terpotong, mataku terbuka semakin melebar, sambil aku membalikkan pandanganku. . di belakangku terdapat sebuah tembok bata yang Nampak usang dan bekas terbakar.

“a. apa? T. tembok?” kataku sambil meraba raba tembok bata tersebut.

“rei. .  “ kata miku sambil menepuk pundakku

“a. .aneh. . ini seharusnya. . pintu. . “ kataku berusaha menjelaskan kepada miku

“mi. . ku. .”

“hah?? K. . kak mafuyu?” kata miku perlahan sambil mencari sumber dari suara tersebut.


Kami berdua menyadari di belakang kami berdiri seorang pria tinggi dengan pakaian putih dan celana panjang hitam, dan wajah yang sangat mirip dengan miku.

“k. .kakak?” kata miku perlahan. .
“mi. .ku. .” kata mafuyu dengan wajah yang agak pucat
“kamu . .kemana. .sa. .”

Belum sempat miku menyelesaikan kata katanya, tubuh mafuyu seperti tertarik dengan kuat menjauhi kami berdua

“AAAAAAAAAAAAARGHHH!!!!!!!!” teriak mafuyu

“K. .KAKAK!!! KAK!!” teriak miku

Sesaat sebelum miku berlari mengejar mafuyu, aku dengan sigap menangkap tangan miku dan menahannya.

“m. miku!! i. .ini bisa saja merupakan jebakan. .” kataku

“rei!! Lepaskan aku!!! Kak mafuyu!! REI lepaskan!!” teriak miku kepadaku

“miku!! Ingat saat terakhir kamu mengikuti mafuyu!! Ingat!!” kataku sambil menangkap tubuh miku

“a. .aku tidak peduli!! Aku ingin bersama kakak!!LEPASKAN!!” teriak miku sambil mendorong tubuhku sampai aku terjatuh ke lantai itu

“ugh. . miku. .miku!!!!!!!!!!” teriakku

Dengan cepat aku berdiri dan mengejar miku. . lorong di depan kami tampak gelap.  . dan setiap kami berlari, seperti terdapat lorong baru yang terbentuk setelahnya. .

“miku!! Tunggu aku!!” teriakku
Percuma, miku tidak menjawab apa apa, aku hanya dapat mendengar isak tangisnya sambil ia terus berlari dan mengarahkan senternya kedepan.

“miku!!! Tunggu aku!!” kataku

Miku terus berlari, seakan akan dia tidak merasakan lelah sedikitpun, dibandingkan denganku, nafasku mulai terasa berat, kakiku mulai gemetaran sesaat setelah menahan beban tubuhku. Pandanganku mulai terlihat kabur setelah berlari beberapa saat. Hingga pada akhirnya aku terjatuh karena kehabisan tenaga.

*Thud*

Aku tertunduk sambil berusaha mengatur nafasku. .

“ha. .haah. . mi. .miku. .tunggu. .” kataku perlahan sambil mengatur nafasku.

Aku mengangkat kepalaku, miku semakin lama semakin menjauh, dan alangkah kagetnya diriku, aku melihat tali tali yang tergantung di langit langit itu mulai bergerak dan membalut tubuh, kaki, dan tangan miku.

“MIKU!!!!!!!!!!” teriakku

Secara perlahan miku bersama dengan cahaya senternya semakin meredup dan kemudian menghilang di kegelapan. Aku kembali berdiri dan mencoba untuk menyusul miku. Tak lama kemudian setibanya aku di posisi dimana miku menghilang. . . aku terduduk kembali. . air mataku dengan segera jatuh. .

Aku menemukan senter miku, yang tergeletak di lantai, dengan lampu bohlam yang rusak dan pecah.

“m. .miku. . hiks. .MIKU!!!!!!!!!” teriakku sambil menggenggam lampu senter itu.

*cring*

“UAAAAAAAAAARGH!!!!!!!!!” jeritku sambil menahan bahuku. .

Tato itu kembali tersebar dengan sangat cepat sampai memenuhi seluruh tubuhku, mulau dari wajah, sampai kaki. . aku terus menjerit sampai berguling di lorong sempit itu. Hingga aku tersadar, saat aku berpaling, aku hanya melihat sepasang kaki yang melayang di sebelahku.

Tiba tiba tubuhku terangkat dan terdorong ke tembok. .

*thud*
“agh!! . . “jeritku sambil menahan sakit akibat tekanan itu

Reika kembali muncul di hadapanku, ia menatapku dengan tatapan kosong dan suara nafas yang berat.

“uugh. .re. .reika. . uggh. .”

Tato itu kembali menjalar dan bertambah sakit ketika reika berada di dekatku.

“ka. .mu. . sudah. . . si. .ap . .” kata reika perlahan

“s. .siap? untuk apa?” tanyaku sambil masih tertahan ke tembok

Reika menundukkan kepalanya, dia mulai tertawa kecil.

“haha. . hahaha. . ahahahhaha. . “

Reika mengangkat wajahnya sambil tertawa.
Suara tawa reika terdengar bergema gema  memenuhi lorong tersebut.


“ugh. .re. reika!! Jawab aku!!!” teriakku

“. . .”

Seketika lorong itu kembali sunyi, dan reika menatapku dengan bola matanya yang besar dan ekspresi datar. .

“r. .reika?” kataku sambil menahan isak tangisku

Reika secara perlahan meraih bahu bagian belakangku dengan jarinya. . dan rasa sakit itu kembali timbul. . lebih sakit. . jauh lebih sakit dari sebelumnya.

Aku berteriak dengan lantang sampai air mataku tak bisa kutahan lagi dan mataku terbuka sangat lebar.  .

“tunggu. . waktumu tiba. . . pendeta. . bertato. .”

Suara reika itu terdengar samar samar. . aku mulai kehilangan kesadaran akibat rasa sakit yang kurasakan.

*cring* *cring*

“AHH!!!” teriakku sampai aku terbangun dan terduduk.

aku melihat sekitarku, semuanya Nampak kembali ke dunia nyata. Aku meraih bahuku sambil kembali mengatur nafasku.

“ha. .haah. . rei . .reika. . “ kataku

Seketika aku merasakan sesuatu di tanganku. . aku mendapati sebuah senter tua yang berguling menyentuh tanganku di kasur.

“s . . senter. . “ pikirku sejenak

“senter ini?? MIKU!!??”
Dengan cepat aku bangkit dari kasurku dan segera menuju kamar miku. Namun langkahku berhenti ketika aku melihat pintu kamar miku terbuka sedikit.

“mi. miku??” pikirku

Aku memutuskan untuk mengintip dari celah pintu tersebut, aku tersentak. . di dalam ruangan miku terdapat banyak sekali orang dengan pakaian sama seperti orang orang dari rumah itu. Salah satu dari mereka ialah yashuu  yang seperti membacakan doa kepada miku.

Miku terlihat sangat pucat dengan wajahnya yang dipenuhi oleh tato. . hampir sama sepertiku. . dan yoshino. . saat di rumah sakit dulu. Tiba tiba yashuu membalikkan tubuhnya secara perlahan dan menyadariku yang berdiri terdiam di balik pintu itu. . yashuu menyodorkan jari telunjuknya ke arahku. .

“. . .kau. . selanjutnya. . :

*cring*








Tidak ada komentar: