-Brother. . . don’t Go. . .-
“rei. . apakah kita semua akan mati??” Tanya miku yang
memandangi gelas berisikan air di depannya.
“miku. . .” kataku sambal menghela nafas panjang dan
merangkulnya dari samping. .
“kau tahu. . aku juga sangat merindukan Yuu. . begitu
pula Kei yang merindukan mio. .dan. . hmph. .mayu. .” kataku sambil menunduk
“a. .apakah benar. . mio terselamatkan?” Tanya miku. .
“aku. .aku tidak tahu miku. . namun. . siapapun yang sudah meninggal. . akan tetap.
. meninggal. .” kataku sambil mengelus rambut miku
“hiks. . mafuyu. . “ kata miku sambil kembali terisak
dan memeluk tubuhku. .
“miku. . kamu harus beristirahat. . ini sudah sangat
larut” kataku sambil mengangkat wajah miku
“t..tapi. . aku takut. . aku akan memimpikan mafuyu
kembali. .” kata miku
“hmph. . hey. . kamu tahu, aku pergi ke mimpi yang
sama dengan kei. . dan kami berhasil menyelamatkan mio dari kutukan di desa
itu. . aku yakin apabila kita bertemu di rumah mimpi itu. . aku akan membantumu
menyelamatkan mafuyu juga. .” kataku sambil menepuk pipi miku sambil tersenyum.
“. . .”
Miku mencoba menghapus air matanya dan tersenyum
kembali kepadaku. Malam itu aku memutuskan untuk menuliskan tentang apa yang
terjadi selama ini di catatan pribadiku, lengkap dengan barang barang hasil
temuanku yang terbawa ke dunia nyata.
Aku mengangkat baling baling kayu milik kozue yang
terbawa olehku. .
“haah. . Reika.
. sebenarnya apa yang ingin kamu tunjukkan kepadaku?” pikirku sambil memutar
baling baling itu di tanganku. .
“ . . . K. kak
reika. . kak reikaa???”
*cring* *cring*
“hah? . .a. apa?” kataku sambil membalikkan tubuhku. .
Aku melihat kozue yang tersenyum sambil menyodorkan
tangannya, ingin meminta baling balingkayu itu kembali. Seluruh ruangan itu
telah kembali menjadi sosok rumah tua itu.
“. . kak reika??” Tanya kozue sambil memiringkan
kepalanya
“eh? i. . iya
kozue. .ini. .” kataku sambil memberikan baling baling itu.
“hihi terima kasih kak!” katanya
Kozue dengan segera berlari menjauhiku dan menghilang
di kegelapan.
“haah. . tak kusangka aku seperti sedikit merindukan
tempat ini. .” kataku sambil memegang kepalaku
Tanpa kusadari, aku telah menggenggam sebuah benda di
tangan kiriku.
“ah. .lentera reika. .” pikirku sambil mengangkat
lentera itu
Aku memutuskan untuk menjelajahi rumah itu. Ruangan
demi ruangan, lorong demi lorong aku telusuri tanpa ada halangan. Setibanya aku
di sebuah ruangan yang tampak familiar. Ruangan itu tampak seperti hais
terbakar, dengan berbagai macam furniture yang rusak dan beberapa yang masih
utuh namun berdebu.
“r. ruangan ini . . m. miku?” pikirku
Penampilan ruangan itu persis, dengan tempat dimana
aku bermimpi bertemu dengan miku . . dan
mafuyu. .
“m. .miku?” kataku perlahan sambil berjalan menelusuri
ruangan itu.
Aku berhenti di depan sebuah pintu. . pintu dimana
miku dulu menabrakku. Secara perlahan aku membuka pintu tersebut.
“m. miku??” kataku berharap miku berada dibalik pintu
tersebut. .
Namun aku terlalu berharap banyak, dibalik pintu
tersebut terdapat sebuah lorong yang panjang dengan cermin di sisi kiri
kanannya, dan tali yang sangat banyak bergantungan dari langit langitnya.
“r. ruangan apa ini?” kataku sambil memandangi tali
tali yang bergelantungan di langit. .
“KAKAK!!!!!!!!!!!!!”
Sebuah teriakan terdengar dari dalam lorong tersebut .
.
“M. . . MIKU!!” pikirku
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera berlari menelusuri
lorong itu, semakin lama suara miku semakin terdengar jelas. Aku juga dapat
melihat pantulan cahaya dari ujung lorong tersebut.
Pada akhirnya aku menemukan miku, dia sedang terduduk
di lantai tepat di tengah lorong tersebut sambil menundukkan kepalanya.
“m. . miku!!” teriakku sambil menghampirinya
“r. rei?? Rei?” kata miku sambil mengangkat wajahnya
dan melihatku
Miku dengan cepat memeluk pinggangku sambil kembali
menangis.
“reiiiiiiii!!! Syukurlah aku menemukanmu disini.
.hiks. .” kata miku
“miku. . “ kataku sambil mengelus kepalanya.
Aku dapat melihat sebuah lampu senter tergeletak di
lantai dekat tempat miku tadi terduduk.
“m. miku? Darimana kamu mendapat lampu itu?” tanyaku
“ugh. . a. .aku tidak tahu rei. . “ kata miku sambil
menghapus air matanya
Aku mengambil lampu senter itu. Senter itu tampak tua
namun cahayanya masih dapat menerangi lorong panjang tersebut.
“ini. . sebaiknya kamu bawa ini miku. . aku merasa ini
akan berguna nantinya” kataku
“i. . iya rei. . umm. . rei. .boleh kubertanya
sesuatu?” Tanya miku
“tentu saja miku. . .” kataku sambil memandangi
lenteraku yang terlihat meredup.
“kamu. . datang darimana?” Tanya miku
“eh? Tentu saja. .dar. . i. . “
Kata kataku terpotong, mataku terbuka semakin melebar,
sambil aku membalikkan pandanganku. . di belakangku terdapat sebuah tembok bata
yang Nampak usang dan bekas terbakar.
“a. apa? T. tembok?” kataku sambil meraba raba tembok
bata tersebut.
“rei. . “ kata
miku sambil menepuk pundakku
“a. .aneh. . ini seharusnya. . pintu. . “ kataku
berusaha menjelaskan kepada miku
“mi. . ku. .”
“hah?? K. . kak mafuyu?” kata miku perlahan sambil
mencari sumber dari suara tersebut.
Kami berdua menyadari di belakang kami berdiri seorang
pria tinggi dengan pakaian putih dan celana panjang hitam, dan wajah yang
sangat mirip dengan miku.
“k. .kakak?” kata miku perlahan. .
“mi. .ku. .” kata mafuyu dengan wajah yang agak pucat
“kamu . .kemana. .sa. .”
Belum sempat miku menyelesaikan kata katanya, tubuh
mafuyu seperti tertarik dengan kuat menjauhi kami berdua
“AAAAAAAAAAAAARGHHH!!!!!!!!” teriak mafuyu
“K. .KAKAK!!! KAK!!” teriak miku
Sesaat sebelum miku berlari mengejar mafuyu, aku
dengan sigap menangkap tangan miku dan menahannya.
“m. miku!! i. .ini bisa saja merupakan jebakan. .”
kataku
“rei!! Lepaskan aku!!! Kak mafuyu!! REI lepaskan!!”
teriak miku kepadaku
“miku!! Ingat saat terakhir kamu mengikuti mafuyu!!
Ingat!!” kataku sambil menangkap tubuh miku
“a. .aku tidak peduli!! Aku ingin bersama kakak!!LEPASKAN!!”
teriak miku sambil mendorong tubuhku sampai aku terjatuh ke lantai itu
“ugh. . miku. .miku!!!!!!!!!!” teriakku
Dengan cepat aku berdiri dan mengejar miku. . lorong
di depan kami tampak gelap. . dan setiap
kami berlari, seperti terdapat lorong baru yang terbentuk setelahnya. .
“miku!! Tunggu aku!!” teriakku
Percuma, miku tidak menjawab apa apa, aku hanya dapat
mendengar isak tangisnya sambil ia terus berlari dan mengarahkan senternya
kedepan.
“miku!!! Tunggu aku!!” kataku
Miku terus berlari, seakan akan dia tidak merasakan
lelah sedikitpun, dibandingkan denganku, nafasku mulai terasa berat, kakiku
mulai gemetaran sesaat setelah menahan beban tubuhku. Pandanganku mulai
terlihat kabur setelah berlari beberapa saat. Hingga pada akhirnya aku terjatuh
karena kehabisan tenaga.
*Thud*
Aku tertunduk sambil berusaha mengatur nafasku. .
“ha. .haah. . mi. .miku. .tunggu. .” kataku perlahan
sambil mengatur nafasku.
Aku mengangkat kepalaku, miku semakin lama semakin
menjauh, dan alangkah kagetnya diriku, aku melihat tali tali yang tergantung di
langit langit itu mulai bergerak dan membalut tubuh, kaki, dan tangan miku.
“MIKU!!!!!!!!!!” teriakku
Secara perlahan miku bersama dengan cahaya senternya
semakin meredup dan kemudian menghilang di kegelapan. Aku kembali berdiri dan
mencoba untuk menyusul miku. Tak lama kemudian setibanya aku di posisi dimana
miku menghilang. . . aku terduduk kembali. . air mataku dengan segera jatuh. .
Aku menemukan senter miku, yang tergeletak di lantai,
dengan lampu bohlam yang rusak dan pecah.
“m. .miku. . hiks. .MIKU!!!!!!!!!” teriakku sambil
menggenggam lampu senter itu.
*cring*
“UAAAAAAAAAARGH!!!!!!!!!” jeritku sambil menahan
bahuku. .
Tato itu kembali tersebar dengan sangat cepat sampai
memenuhi seluruh tubuhku, mulau dari wajah, sampai kaki. . aku terus menjerit
sampai berguling di lorong sempit itu. Hingga aku tersadar, saat aku berpaling,
aku hanya melihat sepasang kaki yang melayang di sebelahku.
Tiba tiba tubuhku terangkat dan terdorong ke tembok. .
*thud*
“agh!! . . “jeritku sambil menahan sakit akibat
tekanan itu
Reika kembali muncul di hadapanku, ia menatapku dengan
tatapan kosong dan suara nafas yang berat.
“uugh. .re. .reika. . uggh. .”
Tato itu kembali menjalar dan bertambah sakit ketika
reika berada di dekatku.
“ka. .mu. . sudah. . . si. .ap . .” kata reika
perlahan
“s. .siap? untuk apa?” tanyaku sambil masih tertahan
ke tembok
Reika menundukkan kepalanya, dia mulai tertawa kecil.
“haha. . hahaha. . ahahahhaha. . “
Reika mengangkat wajahnya sambil tertawa.
Suara tawa reika terdengar bergema gema memenuhi lorong tersebut.
“ugh. .re. reika!! Jawab aku!!!” teriakku
“. . .”
Seketika lorong itu kembali sunyi, dan reika menatapku
dengan bola matanya yang besar dan ekspresi datar. .
“r. .reika?” kataku sambil menahan isak tangisku
Reika secara perlahan meraih bahu bagian belakangku
dengan jarinya. . dan rasa sakit itu kembali timbul. . lebih sakit. . jauh
lebih sakit dari sebelumnya.
Aku berteriak dengan lantang sampai air mataku tak
bisa kutahan lagi dan mataku terbuka sangat lebar. .
“tunggu. . waktumu tiba. . . pendeta. . bertato. .”
Suara reika itu terdengar samar samar. . aku mulai
kehilangan kesadaran akibat rasa sakit yang kurasakan.
*cring* *cring*
“AHH!!!” teriakku sampai aku terbangun dan terduduk.
aku melihat sekitarku, semuanya Nampak kembali ke
dunia nyata. Aku meraih bahuku sambil kembali mengatur nafasku.
“ha. .haah. . rei . .reika. . “ kataku
Seketika aku merasakan sesuatu di tanganku. . aku
mendapati sebuah senter tua yang berguling menyentuh tanganku di kasur.
“s . . senter. . “ pikirku sejenak
“senter ini?? MIKU!!??”
Dengan cepat aku bangkit dari kasurku dan segera
menuju kamar miku. Namun langkahku berhenti ketika aku melihat pintu kamar miku
terbuka sedikit.
“mi. miku??” pikirku
Aku memutuskan untuk mengintip dari celah pintu
tersebut, aku tersentak. . di dalam ruangan miku terdapat banyak sekali orang
dengan pakaian sama seperti orang orang dari rumah itu. Salah satu dari mereka
ialah yashuu yang seperti membacakan doa
kepada miku.
Miku terlihat sangat pucat dengan wajahnya yang
dipenuhi oleh tato. . hampir sama sepertiku. . dan yoshino. . saat di rumah
sakit dulu. Tiba tiba yashuu membalikkan tubuhnya secara perlahan dan
menyadariku yang berdiri terdiam di balik pintu itu. . yashuu menyodorkan jari
telunjuknya ke arahku. .
“. . .kau. . selanjutnya. . :
*cring*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar