Part 7
-The Victim -
“rei. .”
“i. .iya?”
tanyaku sambil memandang miku
“aku mendapatkan
foto korban waktu itu. .” kata miku sambil menunjukkan sebuah foto
Foto itu
menggambarkan seorang wanita yang wajahnya mrip pada paspor yang kutemukan di
rumah itu, hanya saja, wajahnya sudah dipenuhi tato dan kulit yang putih
pucat..
“ini foto
yang diambil ketika yoshino menghembuskan nafas terakhirnya beberapa hari yang
lalu.. setelah itu jasad yoshino menghilang begitu saja meninggalkan bercak
hitam seperti tinta di kasurnya. . aneh bukan?” Tanya miku sambil memandangku
heran
Aku
teringat kembali kejadian hari itu saat aku bertemu yoshino. . .
“pergi!! Tidak
biarkan aku pergi!!” kata kata yoshino kembali terdengar dikepalaku. .
“rei? Rei?!!”
kata miku sambil menepuk pundakku.
“apamungkin.
. yoshino terjebak di dalam rumah itu. . .” gumamku sendiri
“rumah? Rumah
apa rei?” Tanya miku semakin heran
“miku. .
beritahu aku, sepertinya kamu pernah bilang kamu mendengar seperti alunan lagu
lullaby dri dalam mimpimu kan?” tanyaku
“i. . iya
rei, lagu itu selalu terdengar di kepalaku setiap aku terbangun dari tidurku. .
knp?” kata miku
“rumah tua
dan sekelilingnya turun salju?” tanyaku
“iya. .
disana memang turun salju, lalu banyak terdapat lorong panjang. . lilin. . meja
batu. . dan mafu. . ah lupakan saja. .” miku memotong pembicaraannya
“mafu? Siapa?”
tanyaku
“ah iya!! Aku
harus segera beli susu lagi, nampaknya kita sudah kehabisan stok susu. .” kata
miku sambil bergegas mengambil tas belanja dan pergi
Belum sempat
aku memanggilnya kembali, miku sudah menghilang begitu saja
“kenapa
dengannya?” pikirku bingung
Aku
menghela nafas panjang akuberpikir panjang tentang semua kejadian ini,mengapa
semua makhluk di rumah itu menunjukkan kisah mereka kepadaku? Kenapa harus
menahanku di dalam sana? Kenapa yuu tetap berada di rumah itu?
*cring**cring*
“ugh..”
keluhku sambil mengusap kepalaku. .
Nampaknya
aku akan mulai terbiasa dengan hal ini.. aku terbangun di sebuah ruangan tempat
kyouka beristirahat. Hanya saja tidak ada kimono satupun yang menggantung
disana..
Kali ini
pintu ruangan itu sudah tidak terkunci lagi, aku segera keluar dari ruangan
itu, di luar ruangan tersebut terdapat lorong panjang dengan anak tangga menuju
ke bawah dank e atas. Karena aku merasa pernah datang dari arah bawah, maka aku
memutuskan untuk tetap naik ke atas.
Lorong
lorongitu terlihat lebih redup dari biasanya, lilin ang tampaknya tidak ada
habisnya tetap menyala meskipun angin bertiup cukup kencang yang menembus
dinding rumah yang berlubang..
“AAAARGGGGHH!!!
STOP!!!”
Suara teriakan
yang sangat lantang membuatku terkaget. .
“suara
itu?? Yoshino?” pikirku
Aku dengan
segera berjalan kembali ke ruangan utama di rumah itu. Sesaat sebelum aku masuk
ruangan itu, aku kembali berpikir. . bagaimana kalau aku kembali diserang
seperti beberapa hari yang lalu di ruangan itu?
*cring*
Tiba tiba
aku melihat kilauan cahaya biru redup dari arah ventilasi kecil yang terletak
di bawah tembok tersebut.
Aku mencoba
berjongkok untuk melihat sumber cahaya itu. .
“lentera
itu. . bagaimana bisa jatuh ke bawah sana?” pikirku.
Ventilasi itu
tertutup sebuah jeruji yang terbuat dari kayu yang nampaknya sudah mulai rusak
dan tua. Aku mulai mencoba menarik kayu itu untuk merusaknya.
*krak*
“aaah!!”
teriakku sambil terjatuh kebelakang
“nampaknya
aku terlalu banyak mengeluarkan tenaga. .” kataku sambil mencoba berdiri dan
membersihkan celanaku yang kotor akibat debu.
Tanpa membuang
banyak waktu lagi, aku mencoba masuk melewati lubang di ventilasi itu,karena
ruangannya sempit, aku bahkan harus sampai merangkak untuk memasukinya..
Lorong
itupenuh dengan debu, sarang laba laba, dan berbagai macam jenis dedaunan tua
yang berserakan.
“biarkan. .
.. aku. . pergi. .”
Aku
terdiam, suara itu berasal dari arah belakang. Aku mencoba membalikkan
pandanganku, namun tidak ada siapa siapa.
*kresek*
“hah? Siapa
disana!!?” kataku sambil membalikkan kepalaku mencari sumber suara tersebut.
“tolong. .
. aku. . .” bisikan itu kembali muncul
“kamu
siapa? Biarkan aku membantumu! Katakan padaku” teriakku
Sebuah tangan
meraih rambutku dari belakang dan menariknya dengan kuat.
“aaargh!!! Tidaaaak!!
Lepaskan aku!!” aku menjerit sambil
berusaha menarik rambutku.
Aku
berusaha memegang tangan itu dan melemparkannya ke arah depan.
*brak*
Sesosok
wanita dengan rambut yang lumayan panjang terjatuh mengenai pilar kayu
penyangga di lorong sempit itu.
“haah. .
haah. . siapa kamu??” kataku perlahan
Wanita itu
berbalik badan dengan sangat cepat dan segera memposisikan dirinya sama seperti
diriku, hanya saja lebih rendah. . . jauh lebih rendah, seperti seekor laba
laba yang merayap.
“gah!! Biarkan
aku bebas!!!” teriak wanita itu sambil
merayap menjauh dariku secepat kilat.
Aku hanya
terdiam. . wanita itu tidak berpenampilan sama skali seperti penghuni kuil lainnya..
apakah ia memang meninggal disini?
Tanpa
berpikir panjang lagi, aku kembali merangkak maju dan meraih lentera biru itu.
“disini
kamu rupanya. . “ pikirku sambil berusaha mengangkat lebih tinggi untuk
menerangi lorong itu.
Di ujung
ruangan tersebut terdapat tatami yang terbuka (penutup lantai untuk sebuah
ruangan) dan ada cahaya muncul dari atasnya. Aku memutuskan untuk melanjutkan menelusuri lorong menuju tatami yang terbuka
tersebut.
Lubang
tatami itu ternyata tepat berada di ruangan dibalik pintu yang terkunci itu,
sebelum naik ke ruangan itu, aku mencoba melihat sekitarku dengan lentera biru
itu. Ruangan itu tampak kosong, dengan segera aku naik ke atas. . karena aku
merasa wanita tadi akan muncul, maka aku menutup tatami yang terbuka itu. .
“Apa yang
kamu lakukan?”
*cring**cring*
Tiba tiba
suara itu muncul dari belakangku.. secara perlahan aku membalikkan badanku. .
ruangan yang gelap dan suram itu kemudian berubah menjadi terang dengan lilin
di sepanjang dindingnya dan perapian di tengah ruangan yang menyala
Seorang
wanita dengan yukata coklat tua menyapaku sambil membawa peralatan makan yang
banyak.
Aku hanya
memandangi wanita itu tanpa berkatakata. .
“hm? Reika?
Kmu kenapa?” Tanya wanita itu sambil memandangi wajahku dengan kebingungan..
Reika?? Reika??
Kenapa wanita itu memanggil aku reika? Sekilas aku memandangi lentera yang
selalu kupegang di tanganku. Lentera itu tampak lebih terang dari biasanya. Apakah
karena aku membawa lentera reika ini?
“reika?? Reika!?”
kata wanita itu membuyarkan lamunanku.
“eh? i. .
iya aku tidak apa apa. .” kataku perlahan
Wanita itu
segera meletakkan peralatan makan tadi ke meja yang berada di dkat kita berdua. .
“kak
reikaaaa. ..”
Tiba tiba
seorang anak kecil melompat naik ke punggungku. .
Aku menoleh
kebelakang, seorang anak kecil yang sekiranya berumur 4 tahunan dengan potongan
rambut pendek sedang asik memeluk punggungku. .
“kozue. .
jangan seperti itu hayoo. . sini turun. .” kata wanita itu
Anak kecil
itu langsung turun dan berjalan di depanku. . aku memandangi mereka berdua. .tiba
tiba aku teringat akan mereka. . mereka ialah sepasang ibu dan anak yang
beberapa hari yang lalu menyerangku. . nampaknya akibat lentera ini, mereka
tidak menyerangku dan menganggap aku salah satu dari mereka. .
“reika? Kamu
yakin baik baik saja? Apakah perlu aku buatkan the?” Tanya wanita itu
“oh tidak.
.tidak perlu. . umm. .”
“kirue. .
kirue fukuzawa,reika. . kamu memang seorang yang pelupa haha . .” kata wanita
itu sambil tertawa.
Aku hanya
tersenyum saja tanpa berkata kata. . kozue memegangi tanganku dan
memperhatikannya. .
“kak reika
. .”
“i. . iya
kozue?” kataku sambil tersenyum memandangi anak manis itu.
“bagaimana
bisa kakak memiliki rambut yang sangat panjang? Bagaimana bisa juga kulit kaka
sangat putih dan indah?” Tanya kozue sambil mengelus telapak tanganku. .
“umm . uh.
.” aku bingung harus berkata apa padanya, rambutku tidaklah panjang sama skali.
.
“nona
reika. . saya permisi dulu ya. . saya takut nanti master yashuu akan marah
kalau saya tidak berada di tempat saya. .” kata kirue sambil membungkukkan
badannya padaku.
“oh. .iya.
.” kataku perlahan
“ayo kozue.
. kita kembali ke dapur. .” kata kirue sambil menggandeng tangan putrinya.
*cring**cring*
Ruangan
itu kembali menjadi gelap dan rusak
dalam sekejap. .
Aku
menghela nafas panjang sambil berusaha melihat sekitarku..
Aku
menemukan anak tangga yang menuntunku ke tempat pertama kali aku bertemu
yoshino. Maka dengan tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menaiki anak
tangga itu.
Sesampainya
di atas anak tangga itu, aku mulai mendengar seperti seorang wanita sedang
bergumam sendirian. Aku mencoba mendekati arah sumber suara tersebut.
“beberapa
hari yang lalu, pintu ini Nampak terkunci” pikirku sambil kembali mengingat
saat pertama melihat yoshino, pintu itu terkunci.
*klik*
*kriiiet* nampaknya pintu ini terbuka kali ini, aku segera membukanya secara
perlahan
Di belakang
pintu tersebut terdapat sebuah lorong dengan 2 ruangan besar di sisi kiri dan
kanannya. Aku mengangkat lenteraku sambil berhati hati berjalan masuk.
“tidak. .
aku tidak bersalah. . aku tidak melakukan apa apa. .”
Suara
yoshino kembali terdengar perlahan dari ruangan di sebelah kanan. Aku menggeser
pintu ruangan itu . yoshino tampak terduduk di ujung ruangan tersebut sambil
memegangi kedua pundaknya.
“yo.
.shino?” aku memberanikan diri untuk memanggilnya. .
Dengan
cepat yoshino menatapku. .
“siapa
kamu??” katanya perlahan sambil gemetaran…
“namaku
rei. . tenang saja. . aku tau tentang dirimu. .
aku tidak akan menyakitimu. .” kataku sambil menunduk dan berjongkok di
depan yoshino
“aku tidak
bersalah!!!!aku tidak tahu apa apa!!” yoshino berteriak sambil mendorongku
“aah!!”
jeritku sambil terjatuh kebelakang.
Yoshino
kembali menggeser badannya ke ujung ruangan.
Aku kembali
terduduk sambil memandanginya. .
“uugh. .
yoshino. . tenang saja! Aku disini bukan untuk menyakitimu. . aku disini ingin
menolongmu. .” kataku memastikan tujuanku untuknya.
“tidak ada
yang bisa keluar. . tidak ada yang selamat. . tidak ada yang hidup. .” kata
yoshino
“yoshino. .
jangan takut padaku. . biarkan aku membantunmu. .” kataku sambil menjulurkan
tanganku padanya.
“aku. .
tidak takut padamu. . . tapi. . .pada mereka . .”
Sesosok
bayangan hitam muncul dari balik punggungku dan mendorong perutku menjauh dari
yoshino. .
“aaargh!!!!”
jeritku sambil terseret menjauh ke arah pintu ruangan tersebut sambil terguling
guling.
“huuf. .
haah. .”
Aku
berusaha menahan sakit di perutku sambil menoleh kea rah yoshino, aku terkaget.
. sosok bayangan hitam kira kira ada 4 bayangan hitam muncul dan melayang
layang di sekitar yoshino.
“tidaaak!! Aku
tidak bersalaaaaaah!!! “ teriak yoshino sambil terjongkok dan menutup
telinganya.
“kenapa. .
kamu. . selamat. . .” “kenapa. . kamu tidak. . mati. .” “kenapa. .”
Suara suara
muncul dari bayangan bayangan tersebut. .
“tidaaak!!aku
sudah mati!! Dari pesawat itu!!” jerit yoshino
“yoshino! Pergi
dari sana!!” teriakku. .
“DIAM!!!”
teriak salah seorang bayangan tersebut sambil memelototiku, matanya yang tampak
berwarna putih menyala membuatku terdiam.
“rei. .
tolong. . aku. .aku tidak ingin. . mati. .” kata yoshino perlahan
Aku dengan
cepat berdiri dan mencoba berlari sambil memegangi perutku karena sakit. .
bayangan bayangan itu kembali menghadap padaku. .
“kamu. .
berani menentang. . orang yang sudah mati??” kata salah seorang bayangan
tersebut
Aku tidak
menghiraukanya sambil tetap berlari kea rah yoshino. . dan pada akhirnya aku
berhasil meraih tangan yoshino.
“yoshino. .
ayo kita pergi. .” kataku sambil meraih tangannya
Yoshino
menatapku, kali ini tatapannya tampak beda dari sebelumnya., yoshino berusaha
untuk bangun seiring dengan tarika tanganku.
“tolong. .
bangunan . . aku. .” kata yoshino perlahan
Aku
merangkul yoshino sambil membantunya untuk berjalan. .
“kita akan
keluar dari sini. . bersama sama. .” kataku sambil tersenyum
Belum
sempat kami berjalan jauh, bayangan itu muncul kembali di depan kami. .
“yo. .
shino. .” kata bayangan tersebut
“biarkan
kami pergi!! Yoshino tidak ada hubungannya dengan kematian kalian semua!!”
kataku sambil berusaha mengangkat yoshino yang terlihat lemas.
Bayangan
itu kembali melayang dan menabrakku dari depan tepat d bagian perutku. .
*buk*
“aargh!!”
jeritku
Bayangan
itu menembus tubuhku, namun rasanya seperti dipukul dengan sangat keras.
Aku kembali
terjatuh dan tertunduk, sedangkan yoshino tetap berdiri lemas di sebelahku.
“saatnya. . kamu ikut mati bersama kami. .”
kata bayangan itu. .
Bayangan
bayangan itu mulai menembus nimbus badan yoshino. Yoshino menjerit kesakitan
sambil berdiri,kepalanya terdongak ke atas dengan mulut yang terbuka lebar.
“yoshino.
.tidak. .” kataku perlahan. .
*cring**cring*
Suara
lonceng itu membuatku menyadari bahwa lenteraku yang terjatuh tidak jauh dari
tempat kami berada itu menyala dengan sangat terang.
“lentera
itu. . “ pikirku
Aku mencoba
meraih tangan yoshino sambil menariknya menuju kea rah lentera tersebut sambil
merangkak karena rasa sakit di perutku.
“bertahanlah
yoshino. .” kataku sambil merangkak dan menarik yoshino.
Yoshino
tetap berteriak dan bayangan itu kembali menembus tubuhnya tanpa berhenti.
Perlahan
lahan kaki yoshino berubah menjadi gelap, dan mulai menghilang menjadi asap
bayangan gelap. .
“tidak.
.yoshino bertahanlah!!” kataku sambil menatap yoshino. .
Aku mencoba
meraih lentera itu, namun lentera itu tertembus sosok bayangan itu sehingga
tergeser menjauh.
Aku kembali
mencoba merangkak untuk menggapainya. .
Aku menengok
kebelakang, sudah hampir setengah tubuh yoshino telah menjadi bayangan hitam
yang tidak berwujud. Aku mempercepat gerakanku untuk mencegah kematiannya.
“rei. . .
tolong. . aku. .” gumam yoshino perlahan di tengah tengah jeritan kesakitannya.
Dengan
cepat aku segera meraih lentera tersebut dan mengangkatnya ke arah keempat
bayangan itu. .
“aargh!! Tidak.
.” jerit bayangan itu
Lentera itu
menyala sangat terang seperti kilat yang memenuhi ruangan itu sehingga aku
tidak dapat melihat apa apa karena sangat terang.
*cring**cring*
“haah!!”
Aku
terbangun dan dengan segera terduduk. . dengan cepat aku mengenali tempat itu.
. ini kamarku. .
Aku
mengusap keningku sambil memejamkan mataku. .
“te. .rima.
. kasih. . rei. .”
Alangkah
kagetnya aku, aku dapat merasakan tangan kananku seperti ada yang meraba. . aku
melihat sesosok wanita terduduk di sebelah kasur dengan kulit putih pucat dan
wajah yang mirip dengan yoshino. .
Aku tidak
dapat berkata apa apa sambil memelototi sosok tersebut. .
“te. .
rima. .ka. .sih. . rei. “ kata sosok tersebut sambil tersenyum
Belum
sempat aku mengeluarkan kata kata, sosok itu kemudian menghilang . .
aku
kemudian memegang kepalaku, berusaha untuk menyadarkan diriku. .
"apakah hanya khaya. . AARGHH!!"
*cring*
“aaargh!!!!”
jeritku. .
Tato itu
kembali muncul dari bahu belakang kananku, kemudian menyebar sampai daerah
punggung dan pinggangku. .aku menahan rasa sakit yang diakibatkan tato
tersebut.setelah sampai sekitar pinggang bawahku, tato itu bersinar perlahan
kemudian menghilang.
“haah,. .
haah. . apa apaan ini. . kenapa tato itu menyebar lagi?” kataku sambil
berkeringat karena menahan rasa sakit itu. .
Sejujurnya
aku terlupakan tentang tato yang menyebar di tubuhku tersebut. Apakah ini merupakan
kutukan itu? Lalu apa yang terjadi apabila tatoku sudah menyebar sampai ke
seluruh tubuhku?? Apakah aku harus seperti reika??apakah aku harus menjalani
ritual tersebut???
To be continued part 8
“brother. . “. .
“



2 komentar:
Lanjutannya? Keren!
tunggu yaa
Posting Komentar