Part 6
-The Hair and Mirror -
“ritual
dijalankan ketika seorang pendeta sukarelawan telah menginjak usia 16 tahun dan
telah bersedia untuk melakukannya. . . paku ditusukkan ke telapak tangan dan
kaki. . . kaca penyimpan arwah. . . lilin biru tua. . kabut gelap. .”
Begitu saja
petunjuk yang kudapat dari file file hasil pencarianku di net kemarin. . tidak
ada satupun yang dapat membantu dan menjelaskan tentang kejadian di kamar mandi
tadi sore. . aku merebahkan diriku di kasur kesayanganku sambil sejenak
mengejamkan mataku. . .
“kalau
memang wanita bertato itu reika, mengapa ia masih tetap berkeliaran di rumah
tua itu? Hal apa yang membuatnya tidak tenang? Apakah ritualnya gagal?” pikirku
dalam hati
*knock**knock*
“masuk. .”
kataku sambil duduk di kasurku
“rei. . . “
“oh
ternyata kamu miku. . ayo masuk. . “
“rei.
. aku ingin bertanya sesuatu denganmu.
.” kata miku sambil duduk di pinggir kasur
“tentang
apa?”
“kamu ingat
tentang lagu yang kunyanyikan saat tengah malam itu??”
“iya. .
kenapa?”
“aku
kembali mendengarkan lagu tersebut dalam mimpiku. . namun tidak jelas siapa dan
darimana suara lagu itu berasal. . “
aku terdiam
sejenak. . .
“rei? Kamu
tidak apa apa??” Tanya miku dengan wajah kebingungan
Apakah
mungkin miku pernah masuk ke dalam rumah itu? Ke dalam manor of sleep?
“miku. .
kalau aku tidak salah ingat, kamu pernah bercerita tentang memimpikkan suatu
tempat bersalju bukan?”
“ i. . iya.
. ada apa rei? Aku bermimpi berada di sebuah ruangan gelap dan besar. .”
“lalu ada
sebuah kandang di tengahnya bukan?” kataku memotong pembicaraan miku
“huh?
Kandang? Hanya ada sebuah batu seperti sebuah meja rei. . aku tidak yakin itu
batu untuk apa, namun terdapat banyak darah di atasnya. .” kata miku
Aku kembali
terdiam. . ternyata ruangan itu beda dari bayangan yang kudapat. .
“miku?apakah
kmu pernah melihat seseorang yang meninggal di depan matamu?” tanyaku
Miku
memandangku. . dengan cepat ia berdiri dan membalikkan dirinya. .
“umm. .
maaf Rei, aku sudah mengganggu tidurmu. . “ katanya sambil dengan cepat
berjalan kea rah pintu. .
“hey, miku?
Mikuu. .” kataku berusaha menghentikannya. .
Miku telah
kembali ke kamarnya. . apa yang terjadi sampai ia tidak mau menceritakannya
kepadaku. . memang aku selalu sibuk ketika bekerja bersama Yuu maupun sekarang
saat aku bersama miku. . aku tidak pernah sempat untuk bertanya tentang
kehidupan masa lalunya, bahkan masuk ke kamarnya saja aku tidak pernah. .
*cring**cring*
Aku
terdiam. . suara lonceng itu kembali mengiang di dalam kepalaku. .
“haah?
*pant* *pant*”
aku kembali
tersadar dan melihat sekelilingku. .
“oh tidak.
. “ pikirku
Aku berada
di sebuah selasar yang sangat panjang dan gelap. . aku tidak yakin berada
dimana, namun aku tau aku berada di dalam rumah itu. . Lentera itu kembali
tergantung di tanganku. . aku melihat sekitarku, lorong tersebut hanya diterangi
dengan lilin lilin tua yang menyala. .
Aku
memutuskan untuk berjalan ke ujung lorong ruangan tersebut. .
“hiks. .
hiks. .”
Aku
mendengar suara isak tangis di kejauhan di lorong tersebut. . jantungku
berdegup kencang, aku mencoba memfokuskan pandanganku akan darimana asal suara
tersebut. .
*krik**krik*
“hiks. .”
Aku terdiam
sejenak, aku mengangkat lenteraku, berusaha untuk menerangi lebih jauh dari
lorong tersebut. .
“si. .siapa
disana?” kataku pelan. .
Suara
tangisan itu terdengar semakin mendekat. .
*kriik*
“hiks. . dimana. . . bayi. .ku?”
Suara itu
semakin terdengar jelas, seperti suara orang tua . .
“ba.
.bayi?” balasku
“iya. .
bayiku. . . cucuku. . . hiks. .” kata wanita itu
Keringat mulai
bercucuran turun dari wajahku. .
“bayi? Aku.
. aku tidak tahu. .” kataku sambil
“hiks. .
bo. . hong. .” kata wanita itu sambil mulai menggeram. .
“a. . aku
tidak tahu . . aku tidak bohong. .” kataku sambil menelan ludah
*KREEEEEEK*
“BOHOOOONG. . . .”
Suara teriakan
wanita tua itu mengiang di sepanjang lorong tersebut. . tiba tiba, seorang
wanita tua berpakaian lusuh sambil membawa kereta kayu muncul di depanku. .
*KREEEEEEEEEEEK*
“KEMBALIKAN!!!!” teriak wanita itu sambil berlari mendorong kereta ke arahku. .
“AAAA. . .”
Aku
berteriak sambil mulai berlari menjauhinya. .
suara roda kereta kayu itu semakin keras dan keras. .
Aku hanya
memandang apa yang ada di depanku. .berlari secepat yang aku bisa. . tanpa berani memandang wanita dan kereta kayu
itu. .
“AKU TIDAK
TAHU!!! Dimana. . bayimu!!” teriakku. .
Tiba tiba,
lorong tersebut kembali sunyi. . suara wanita maupun suara roda kereta itu
menghilang seketika. .
Aku mencoba
memperlambat langkahku sambil berbalik arah. .
“haah.
.hah” *pant*
Nafasku
sesak sambil memandang lorong di belakangku yang kosong. .
“kemana . .
dia?” pikirku
Tanpa
berpikir panjang, aku memutuskan untuk berjalan ke arah satunya dan berharap
dia tidak kembali lagi. . Di ujung lorong tersebut ada sebuah tangga yang
temboknya terlihat lebih rapi daripada tembok di lorong panjang tadi. .
“hiks. . .”
Aku
terdiam, suara tangisan kembali terdengar dari lantai atas ruangan tersebut. .
suara tangisan itu terdengar berbeda dengan yang sebelumnya. . aku kembali
menelan air ludah sambil menaiki tangga tersebut sampai tiba di ujung tangga
tersebut. . aku melihat sebuah pintu di sebelah kiriku yang agak terbuka
sedikit. .
“hiks. .
hiks. .”
Suara
tangis itu kembali terdengar jelas, tangisan itu dating dari ruangan dibalik
pintu tersebut. . aku memutuskan untuk mengintip melalui pintu tersebut. .
ruangan itu dipenuhi dengan yukata yukata berbagai macam yang digantung. . aku
mencoba mencari darimana asal suara tangisan itu. .
“hiks. .”
Pada akhirnya
aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. . aku mengendap dan bersembunyi di balik yukata
yang digantung gantung tersebut. . akhirnya aku menemukan sumber dari suara
tangisan tersebut. .
Aku melihat
seorang wanita beryukata hitam yang terduduk di ujung ruangan tersebut. .
Wanita itu
memiliki rambut yang sangat panjang dan sangat lurus. . aku dapat melihat
wanita itu seperti merapikan rambutnya dengan sebuah sisir sambil terisak
menangis. . aku terus memperhatikan wanita itu. . tepat di depan wanita itu
terdapat sebuah kaca kecil dengan beberapa benda hitam seperti rambut yang
tergantung di tembok tembok di atas kaca itu. .
“rambut.
.hah?” pikirku sambil memperhatikan wanita itu dengan lebih seksama. .
Tiba tiba
tongkat penyangga yukata itu terjatuh dan yukata itu terjatuh di depanku. .
Aku
terdiam. .
Wanita itu
terdiam, tanpa gerakan dan suara sedikitpun. .
“matilah
aku. .” pikirku
Belum
sempat aku bergerak, tiba tiba wanita itu muncul di depanku dengan rambut
panjangnya yang terurai di udara dan wajah yang dipenuhi darah. .
Aku
menjerit sambil secara reflek berdiri dan mulai berlari. . wanita itu kembali
melayang dan mulai mengejarku. .
“Kemana. .
AKITO??!!!” teriak wanita itu. . sambil berusaha menangkapku. .
Aku berlari
menuju pintu tempat aku masuk tadi..
“sial!! Terkunci!!”
pikirku sambil mencoba menggeser pintu tersebut.
Aku
membalikkan badanku dengan cepat, wanita itu menghilang!!beserta seluruh kimono
dan yukata di ruangan tersebut.
“Apa?? Kemana
perginya wanita itu?” pikirku sambil melihat keseluruhan ruangan itu.
*tok* *tok*
Keringat
mulai bercucuran sambil aku membayangkan apa yang akan keluar dari pintu
tersebut.
“Kyouka? Permisi?”
Suara itu
muncul dari balik pintu, nampaknya suara seorang lelaki.
“ya? Silahkan
masuk!”
Aku
terkaget saat suara kedua muncul dari belakang punggungku.. seorang wanita
dengan rambut hitam panjangnya melewati tubuhku seakan akan aku adalah hantu..
Wanita itu
membuka pintu tersebut, seorang pria beryukata coklat gelap masuk sambil
membawa sebuah tas kecil.
Mereka berdua
duduk di tengah ruangan tersebut.
“semakin
lama aku tinggal disini, entah mengapa aku semakin tidak bisa berhenti
memikirkanmu kyouka.” Kata pria tersebut
“ah kamu
akito, bisa saja” kata kyouka sambil mengelus rambutnya yang panjang.
Ternyata
pria itu adalah akito, seorang penulis cerita yang berkesempatan tinggal di
kuil itu dengan alasan melakukan penelitian untuk tulisan barunya. Mereka
berdua kembali bercanda dan bersenda gurau. Aku hanya terdiam memandangi setiap
kata yang keluar dari mulut mereka yang penuh dengan senyuman.
“aku sangat
suka rambutmu kyouka, sangat menawan dan membuatmu terlihat cantik” kata pria
itu
Pria itu
meminta ijin untuk memfoto kyouka dengan alasan ketika ia harus pergi nanti ia
tidak akan bisa melupakan wajah kyouka yang cantik.
*tok**tok*
Suara itu
berasal dari pintu lagi, namun kali ini tidak ada suara panggilan atau salam.
Sesaat
kemudian pintu itu terbuka, ternyata itu akito. .
“hah? Tidak
mungkin..” pikirku sambil membalikkan badan ke tempat mereka berdua becanda
tadi. .
Aku
terkaget melihat kyouka dengan terengah engah berdiri dengan perutnya yang
sangat besar.
“i. . iya
akito. .aku datang. .” kata kyouka sambil berusaha berjalan
“tidak..
tidak. . kamu beristorahat saja kyouka,tidak apa apa” kata akito sambil menyuruh kyouka untuk tetap duduk.
Mereka
mulai berbincang kembali sambil sesekali akito mengusap perut kyouka, namun
satu hal yang berbeda. . ekspresi wajah merekatampak berbeda dari sebelumnya,
akito terlihat sangat gelisah dan begitu juga dengan kyouka.
“kyouka,
aku harus segera pergi dari sini, master yashuu sudah tidakmengijinkan diriku
untuk tinggal kembalidi rumah ini..” kata akito sambil mencium kening kyouka
“tidak. .
aku butuh kamu disini,bagaimana dengan anak kita? kamu tega meninggalkan dia
sendirian tanpa seorang ayah?” kata kyouka sambil menangis
“kyouka. .
aku. .”
“aku tahu
aturan di kuil ini tidak boleh ada pria yang
tinggal disini. .tapi. .” kata kyouka memotong pembicaraan akito
Kyouka
mengambil sebuah pisau kecil dan memotong sedikit bagian dari rambutnya. .
“kyouka!! Apa
yang kamu lakukan?” kata akito sambil menangkap tagan kyouka yang memegang
pisau
“ini.
.bawalah ini. . rambutku ini akan mengingatkanmu selalu akan diriku dan berjanjilah kamu akan kembali” kata
kyouka sambil memberikan potongan rambut panjangnya pada akito. .
“kyouka. .
. aku berjanji akan segera kembali. . ingat selalu aku dan janjiku. .” kata
akito
Akito
memberikan sebuah foto dirinya dan sesuatu yang dibungkus kain. .
“simpan itu
selalu, maka kamu akan selalu teringat akan aku dan janjiku. .” kata akito
sambil menghapus air mata kyouka. .
Mereka
berdua tersenyum dan saling berpelukan..
“aku harus
pergi kyouka. . sudah waktunya. .” kata akito setengah gelisah
“aku
mengerti akito. . aku akan menjaga kaname, anak kita untukmu, sampai kamu
kembali”
Akito
tersenyum dan dengan segera meninggalkan ruangan itu. .
*cring**cring*
Suara
lonceng itu kembali terdengar. .
“hah!!”
Sesaat setelah
tersadar,aku dikagetkan dengan akito yang terbaring lemas di sebuah ruangan
kecilyang tampaknya sebuah lemari kecil
dengan pisau besar di dadanya. .
“akito?!!?”
pikirku sambil menutup mulutku
Banyak
darah bercucuran dari dada akito dan wajahnya tampak pucat dan lemas. .
“ky. .
kyouka. .” katanya perlahan. .
Aku hanya
bisa terdiam, memandangi akito semakin lemas.
“tidak tahu
aturan. . siapapun. . yang melanggar. . akan mati. .”
Suara
yashuu yang terdengar dari luar lemari..
*klik*
“kalau
memang. . kamu tidak mau pergi. . maka kamu aka nada di dalam sana. .
selamanya. .”
Kata yashuu
sambil merintih
akito
memandang langit langit ruangan kecil itu. .
“maafkan aku.
. kyouka. .” katanya akito sambil menutup matanya. . .
*cring**cring*
Aku kembali
ke ruangan kyouka tadi, ruangan itu kembali dipenuhi kimono dan yukata tua yang
digantung. .
Aku berdiri
tepat di depan cermin tempat kyouka menyisir rambutnya tersebut..
Sebuah
sisir tua dan kotak kecil berada tepat di atas meja tersebut. .
Aku menciba
meraih kotak kecil itu dan membukanya. . di dalamnya terdapat sebuah foto
kecil, sebuah anting berbentuk seperti paku, dan sebuah note kecil.
“akito, aku
sangat rindu padamu, cepatlah kembali, kaname hari ini sudah berumur 4 tahun,
aku sudah tidak dapat menyembunyikannya lagi di kuil ini, yashuu akan segera
mengetahuinya, aku menitipkan kaname pada warga di desa sebelah. . tenang saja,
anakmu telah aman dsana. . entah kapan kamu akan kembali, aku akan selalu
menungumu. . ingatlah selalu padaku, pada rambutku, dan pada anakmu. . aku akan
menghitung hari demi hari kepergianmu dengan rambutku yang kugantung di sekitar
cerminku. . aku harap kamu cepat kembali. . aku sayang kamu. .” begitulah isi
note kecil tersebut. .
“kyouka
tidak pernah tahu apa yang terjadi pada suaminya. . mengapa itu bisa terjadi? Siapa
sebenarnya kaname? Dimanakah kaname sekarang?” pikirku sambil menghapus
keringat di dahiku.
*cring**cring*
-to be continued part 7-
The victim


Tidak ada komentar:
Posting Komentar