The call of the tattoos
Part 5
-Reika
Yukishiro-
pagi itu, aku kedatangan sebuah paket berbentuk kotak dengan
tanda Amakura di bagian atasnya. .
aku membuka paket tersebut, paket itu berisi sebuah buku tua
dengan surat di dalamnya. . .
“Yuu. . aku sudah menemukan buku yang sudah lama kau cari,
memang beberapa bagian nampak rusak dan tidak terbaca lagi. . tapi aku harap
buku ini bisa membantu dalam penelitianmu. . kabari aku kalau kamu menemukan
sesuatu – Kei”
Paket itu ternyata dari Kei, kawan satu universitas Yuu yang
selalu ikut dalam proyek proyek horror Yuu. . nampaknya ia belum mendengar
bahwa Yuu sudah tiada. . .
Ku mengambil buku tua itu dan duduk di atas sofa untuk
bersiap membacanya. .
“Rei. . .”
Seseorang menepuk pundakku. . .
“hah!!! Miku. . . kenapa?” kataku sambil dengan cepat
membalikkan badanku. .
“maaf membuatmu kaget rei, aku hanya ingin menanyakan
tentang lullaby yang dahulu aku dengar di mimpiku. . .” kata miku ragu
“iya? Ada apa miku?”
“aku bermimpi buruk belakangan ini. . seperti sebuah ruangan
dengan batu besar ditengahnya. . lalu
disanalah aku mendengar lullaby itu. .”
“batu besar??” tanyaku dengan wajah kebingungan. .
“iya rei. . dan banyak salju turun, namun aku tidak
merasakan dinginnya. . sama seperti di dalam mimpimu Rei. .”
Aku terdiam. . miku memandangiku dengan wajah kebingungan. .
“miku? Mm. . apakah kamu mendapat tanda berupa tato yang
menyebar atau semacamnya? ?”
Miku menggelengkan kepalanya sambil memandangiku dengan
penuh rasa kebingungan. .
“sudah lupakan saja rei, ngomong ngomong aku menemukan
berita tentang yoshino yang dulu kamu berikan potongan passportnya. .”
Miku menjelaskan bahwa yoshino adalah salah seorang korban
kecelakaan pesawat terbang di jepang yang selamat. .
“Rei. . ada beberapa kejanggalan di berita ini, semua korban
yang selamat tampaknya mengalami koma selama beberapa bulan. . lalu semuanya
akhirnya meninggal dengan wajah yang terlihat kehitaman seperti terbakar. . dan
korban terakhirnya ialah Yoshino, tepat sehari setelah kamu memberikan passport
ini. .” kata miku
“be. . benarkah itu?” tanyaku
“iya. . lagipula bagaimana kamu bisa mendapatkan passport
orang yang sama sekali tidak dikenal dan keesokan harinya meninggal?? Ini
merupakan suatu kebetulan atau. . .”
Aku memegang kepalaku. . semua yang kubaca tentang the manor
of sleep. . tentang kutukan tato itu. . tentang korban meninggal menghitam
karena kutukan tersebut. .
“Rei. . aku pergi ke redaksi dulu. . tidak apa apa kan??”
kata miku
“ah? Iya. . hati hati miku” kataku masih memegang kepalaku.
.
Begitu miku keluar rumah, aku memutuskan untuk tidak
memikirkan hal tadi terlebih dahulu dan fokus kepada buku kiriman paket dari
Kei tersebut. .
Buku itu tak tertulis nama pemilik, maupun judul bukunya. .
Aku mencoba membuka halaman secara random dari buku itu. .
“hari hujan, tampaknya ia takkan datang lagi hari ini. .”
kataku membaca isinya. .
Ternyata buku ini semacam diary kuno yang menceritakan
kehidupan seseorang. .
Karena sama sekali tak mengerti, aku mencoba untuk membaca
dari awal buku tersebut. .
“may 25th, 1297. .
aku datang ke sebuah rumah besar. . rumah itu tampak megah dan semua
orang memujanya. . aku pergi bersama ayahku, namun ia tidak ikut masuk kedalam.
. aku tidak tahu kenapa. . aku disambut dengan berbagai macam jamuan dan
sambutan kecil oleh kepala pendeta disana. . semoga aku bisa menjadi pendeta
yang seperti ayah inginkan. . aku sayang ayah. . R”

“august 16th, 1297. . dia melihatku . . dia satu satunya
anak laki laki yang ada di rumah ini, selain para pendeta tentunya. .dia sangat senang bermain dengan adiknya. . melihat kebahagiaan mereka, aku hanya bias tersenyum dari balik jeruji
ini. .”
Nampaknya buku ini tidak ditulisi setiap hari, aku dapat
melihat dari tanggal yang tidak beraturan dari tulisan gadis ini. . aku dapat
mengambil kesimpulan bahwa perempuan ini ialah Reika Yukishiro, pemilik lentera
biru tersebut. .
Karena rasa penasaran yang besar, aku segera membuka halaman
selanjutnya. .
“october 16th, 1297. .
. aku tidak tahu apakah aku sudah siap dengan ritual ini. . aku sudah
tidak sabar lagi. . setidaknya ritual ini akan membuat ayah bangga. . aku harap
itu. . “
“October 18th, 1297. . . tanganku sangat sakit. . semua yang
terlihat ditutupi oleh jeruji besi. . dan dinding gua yang sangat gelap. .
kulitku tidak seputih dulu, penuh dengan tato. . aku hanya bisa menangis
menahan sakitnya tangan dan kakiku. . ini semua untuk ayah. . saat itu ia
datang. . anak laki laki yang selalu aku perhatikan dahulu. .kami berkenalan
hari ini, namnya ialah kaname kuze. . ia selalu menggodaku di dalam kandangku.
. usil, tapi baik. . saat itulah aku merasa. . ialah cinta pertamaku. . hihi.
.”
“November 12th,1297. .
hari hujan deras. . tampaknya ia tidak akan datang hari ini. . aku
merindukan Kaname. . aku ingin ia
menemaniku disini. . karena hariku akan tiba. .”
“november 15th, 1297 ..
hari ini. . . aku akan menyelesaikan semuanya. . . akhirnya aku akan
menjadi seperti yang ayah inginkan. .”
Itu adalah isi terakhir dari
buku tersebut. . selain itu hanya ada beberapa kertas sobekan dan bekas
terbakar. . .
“jadi. . . reika.
. yukishiro. . hmm. . wanita penuh tato itu. . . Reika. .” kataku sambil menutup buku tua itu.
*Cring* *cring*
Suara lonceng itu kembali terdengar di telingaku. . disusul
dengan suara seperti angin yang bertiup dan suara suara aneh. .
“hah?!!?”
kataku tersadar dari lamunanku
Aku
menemukan diriku berada di dalam sebuah kandang besi yang tergantung di langit
langit suatu tempat. . .
“tempat apa
ini??”
ruangan itu
berbentuk lingkaran dengan sebuah
kandang di tengahnya. . .
Aku
terkaget dengan sesosok wanita kecil dengan rambut yang diikat sedang
memandangiku dari luar kandang tersebut. . . aku terdiam sejenak sambil
memandangi gadis kecil tersebut. .
“kamu. .
tidak apa apa? Rei. . ka??” katanya sambil memegang jeruji kandang tersebut. .
“rei.. .
.ka?” kataku perlahan
“ini sudah
saatnya makan. . . dan ini buku yang kamu minta saat itu. . .” kata gadis itu
sambil memasukkan sebuah mangkuk berisi soup dan sebuah buku berwarna biru tua
dengan hiasan garis garis hitam.
Sebuah tulisan
Reika Kuze tertera pada cover buku tersebut. . .
“rei . .ka
. . kuze?? “ kataku perlahan. . aku menyadari bahwa pakaian yang kukenakan
berbeda dari sebelumnya, seperti sebuah yukata putih dengan bawahan biru tua.
Aku mraba dan mengelus yukata itu,. .
Sesaat aku
menunduk, sebuah untaian rambut yang panjang jatuh di pundak lalu ke dada dan
punggungku. .
Gadis itu
memandangiku dengan wajah kebingungan. .
“reika? Kau
benar tidak apa apa? Tampaknya kamu kebingungan begitu. .”
“ah? Aku
tidak apa apa. . terima kasih ya. .” kataku sambil tersenyum. .
Gadis itu
merapikan sisa makanan yang berada di dekat jerujiku..
“uum, kamu
siapa?” kataku memberanikan diri untuk bertanya. .
“reika? Ini
aku amane, masa kamu lupa?” katanya sambil tertawa kecil
Ia
menyadari bahwa aku benar benar tidak tahu siapa dirinya dan ia memandangiku
sambil mendekat ke jerujiku. .
“mungkin
reika butuh istirahat dahulu, atau kalau memang reika punya masalah, kamu bias
menceritakannya oadda amane. . amane pasti akan bantu “ katanya sambil
tersenyum
“te. .
terima kasih, amane. . “ kataku sambil tersenyum. .
“sama sama
reika, kalau kamu sakit nanti tidak bias menjalankan ritual dengan baik . . nanti master yashuu tidak akan puas. .
kan repot hahaha” katanya lagi. .
Aku menyadari
bahwa ini saat sebelum menjalankan ritual seperti yang kubaca di diary itu. .
*cring*
*cring*
Suara
lonceng itu kembali terdengar dan aku pun tersadar kembali. .
“hah. .
haah. .” aku mencoba mengatur nafasku
sambil melirik sekitarku. .
Ternyata
aku telah kembali di ruangan santai dimana aku membaca diary itu tadi. .
Aku
memandangi keluar jendela, nampaknya hari sudah sore dan agak berawan. .
“Rei. . aku
sudah pulang. .” kata miku sambil membuka sepatunya di pintu depan. .
Aku
memegangi kepalaku kembali, mencoba mengumpulkan memori tentang hal yang baru
saja kualami. . rintik hujan mulai
terdengar. .
“huft,
untung saja aku sudah pulang, kalau tidak aku pasti sudah kehujanan. . . iya
kan rei?”
“. . .”
“rei??”
kata miku
“ah? Iya
basah. . basah. .” kataku tersadar
“rei, kamu
tidak apa apa?” kata miku. .
Aku hanya
tersenyum lemas sambil memegangi kepalaku. . .
Pancuran
air shower yang deras jatuh mengenai wajah dan turun sampai ke kakiku. .
Aku
menundukkan kepalaku sambil membasahi rambutku . .
“manor of
sleep. . .reika. . . yuu. . .ritual. . “ pikirku sambil mengusap rambutku yang
basah. .
aku
memandikan diriku di dalam ruangan bershower yang dindingnya terbuat dari kaca
dan terlihat blur sehingga tidak ada yang bisa melihat dari luar. .
tiba tiba listrik
di rumahku mati . .
“hah? Mati
lampu. . “ kataku terkaget sambil berusaha meraih handuk. .
Setelah
berusaha mengenakan handukku, aku mencari gagang pintu showerku. . namun sesaat
setelah itu, lampunya kembali menyala dan alangkah kagetnya aku, se buah
bayanga hitam berwujud seperti manusia berdiri di luar ruangan showerku itu. .
“aah. .
kamu siapa??” kataku perlahan. .
Bayangan
itu mendekat dan terdengar suara seperti desahan wanita yang kesakitan. .
“si. .
siapa kamu?” kataku berusaha menjauhi dinding kaca tersebut. .
Bayangan
itu menempelkan jarinya pada kaca itu, lalu mulai menulis seuatu, aku dapat
melihat jarinya yang putih pucat dan gerakannya yang kaku tersebut. .
Tiba tiba
lampu kembali padam. . aku terkaget sambil berusaha memandangi ruangan itu
sepenuhnya, atas bawah kiri dan kanan kuperhatikan secara bergantian. .
“pergi
kamu! Jangan ganggu aku!” teriakku, namun yang terdengar hanyalah suara hujan
deras di luar rumah. . aku membalikkan diriku sampai menghadap tembok ruangan
itu. .
Lampu
akhirnya kembali menyala, aku dengan segera melihat ke atas, kiri , dan kananku
sambil mencoba mengatur nafasku yang berantakan karena ketakutan. .
Aku
memberanikan diriku untuk berbalik, dengan cepat aku membalikan diriku,
bayangan itu sudah tidak ada disana, hanya sebuah kamar mandi yang kosong . .
Belum
sempat ku mengatur jalur nafasku, sebuah tulisan merah tiba tiba muncul di
pintu kaca tersebut. . . aku hanya bisa terbelalak sambil terus memandangi
tulisan yang terbentuk itu. . .
“it. . .
begins”
To be continued part 6
“The Hair and Mirror”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar