The call of tattoos part 8
-Brother. . .-
“terima. . kasih. . rei. .”
Suara itu kembali terdengar di kepalaku. Aku mengusap
kepalaku sambil meneguk sisa air di gelas minumku. Malam itu nampaknya gerimis,
dan terdapat kilat kilat kecil. Setelah duduk selama beberapa menit di sofa di
ruang keluarga, aku memutuskan untuk kembali melanjutkan tidurku.
Sesaat sebelum aku memasuki kamarku. .
“mafuyu. .”
Suara itu terdengar seperti suara miku, aku menoleh
kea rah lorong tempat kamar miku berada.
“m. .miku?” kataku perlahan
Tidak ada jawaban dari dalam ruangan, perlahan lahan
aku berjalan menghampiri pintu tersebut.
“miku?” kataku sambil membuka pintu kamarnya perlahan.
“hiks. . ah? Rei. . maaf aku tidak mendengarmu. .”
kata miku sambil cepat cepat mengusap wajahnya.
Miku mengenakan pakaian piyama berwarna pink kecil dan
terduduk di atas kasur kecilnya sambil bersandar pada tembok.
“ada apa miku?” tanyaku sambil duduk di kasur miku.
“aku. . hanya mengalami mimpi yang buruk. . rei. .”
kata miku sambil mengusap air matanya.
“mimpi yang seperti apa? Kamu bisa ceritakan padaku. .
aku rekan sekaligus kawanmu disini. .” kataku berusaha membuatnya nyaman.
“terima kasih rei. . “ kata miku sambil mencoba untuk
tersenyum
Aku mengusap kepala miku sambil tersenyum, memang
biarpun umur miku sidah tidak bisa dikatakan muda, tapi tetap saja dia wanita
yang sangat berperasaan dan lembut.
“aku mendengar tadi kamu berkata mafuyu, siapa mafuyu
miku?” tanyaku
“mafuyu itu kakak laki lakiku rei. . sudah lama dia
menghilang. . banyak orang yang bilang dia sudah meninggal, namun aku tau. .
dia ada di suatu tempat,di luar sana. .”kata miku
“kenapa tidak membiarkan polisi mencarinya?” kataku
“tidak, polisi tidak akan pernah percaya akan
ceritaku. . mereka menganggap mafuyu sudah meninggal dan ceritaku hanya
khayalanku saja.”
“ceritakan padaku, kenapa dan bagaimana mafuyu bisa
pergi meninggalkanmu?”
Miku mulai bercerita panjang lebar tentang mafuyu. Ketika
Miku masih berumur 18 tahun, mafuyu mengajaknya ke sebuah tempat seperti rumah
tua yang konon dahulu kala semua orang yang tinggal disana meninggal akibat kebakaran hebat. Mafuyu
ingin sekali menuliskan cerita tentang rumah itu, maka ia mengajak adiknya,
miku untuk mencari inspirasi darirumah itu sendiri.
“kak? Bukannya tempat ini tidak boleh dikunjungi orang
lain, tadi kan ada pemberitahuannya. .” kata miku
“tidak apa apa miku, kita hanya masuk sebentar saja,
lalu kita bisa pulang.” Kata mafuyu sambil mengusap kepala miku
mereka berdua mencoba masuk rumah itu melewati sebuah
lubang kecil yang terdapat pada dinding rumah itu.
“kamu tahu? Semenjak semua orang yang tinggal disini
meninggal, semua orang yang bekerja untuk membersihkan rumah ini selalu
mengalami kejadian kejadian aneh, bahkan beberapa sampai berhenti bekerja, oleh
karena itu rumah ini masih berdiri sampai sekarang.” Kata mafuyu dengan
semangat menceritakannya.
“iya? Lalu kenapa kita kemari?” kata miku
“bodoh. . untuk mencari misteri rumah ini, mengapa
bisa terjadi hal seperti itu..” kata mafuyu
Mereka berdua masuk ke rumah itu, mencari beberapa
petunjuk seperti foto, beberapa tulisan yang tidak habis terbakar, album,
bahkan sampai perabotan yang masih utuh tidak terbakar habis.
“himuro. . .” kata miku sambil mengeja tulisan yang
ada di sebuah foto.
“iya, rumah ini dahulu ditinggali oleh satu keluarga
besar ternama yang sering disebut keluarga himuro. Konon pada saat mereka semua
masih hidup,. .”
“ya ya. . cepat selesaikan urusanmu disini, lalu kita
pergi” kata miku memotong pembicaraan mafuyu.
Aku memperhatikan setiap detail dari cerita miku
tersebut.
“aku menemukan sebuah buku di rumah itu, buku itu
berjudul Rope Shrine Maiden Ritual.” Kata
miku kepadaku.
“lalu?”
“buku itu mengisahkan tentang sebuah ritual kuno yang
mengatakan bahwa pintu neraka telah terbuka, dan apabila kita ingin menutupnya,
harus ada pengorbanan yaitu seorang pendeta wanita dengan cara berbagai macam menggunakan tali yang sangat
banyak. Aku sendiri juga tidak terlalu mengerti” kata miku memperjelas
ceritanya
“hmm. .”
“saat aku sedang asik membaca buku itu, tiba tiba
mafuyu. .”
“mafuyu?” tanyaku
“mafuyu berjalan ke arah sebuah pintu di ujung ruangan
tersebut. Aku mencoba terus memanggilnya, namun dia tidak menjawab, menoleh pun
tidak. Aku berusaha untuk menyadarkan dia, tapi . . tatapannya saat itu, kosong
dan sama skali tidak melirikku. .” kata miku sambil kembali terisak
“miku. .” kataku sambil merangkul kepala miku.
“aku terus memanggil namanya, aku memeluknya dari
belakang, aku menarik tangannya. . percuma. .” kata miku sambil mengusap air
matanya
“tenangkan dirimu miku. . .” kataku
Miku terus bercerita bahwa mafuyu dapat melihat sebuah
bayangan sesosok wanita berambut panjang dengan kimono putih yang di tangan dan
kakinya terdapat potongan tali. Mafuyu akhirnya sampai di ujung sebuah lorong
yang buntu.
“mafuyu!! Stop!!” teriak miku
Tiba tiba sebuah gempa yang besar muncul. .
“argh!!” jerit miku sambil terjatuh ke lantai.
“mi. . ku. .”
“mafuyu!! Kita harus pergi. .” teriak miku sambil
mencoba meraih tangan mafuyu
“aku. . tidak bisa. .” kata mafuyu dengan suara yang
berat
Sosok seorang wanita muncul dari belakang mafuyu. Wanita
itu mengikatkan tali yang ada di tangannya ke leher mafuyu. Wanita itu
mengangkat mafuyu dan melayang di udara.
“mafuyu!!tidak!!lepaskan dia!!” teriak miku
“mi. .ku. . cepat. . pergi. .” kata mafuyu sambil
menahan tekanan dari tali itu.
Miku menunduk sambil menangis lagi. Aku terus saja
mengusap kepalanya sambil berusaha menenangkannya.
“akhirnya aku meninggalkan mafuyu disana, bersamaan dengan robohnya rumah tua
itu karena gempa yang terjadi. . hiks” kata miku sambil menangis
“lalu. .bagaimana dengan mafuyu?” kataku
“polisi tidak dapat dan tidak pernah menemukan mafuyu,
maupun jasadnya, mereka hanya memastikan bahwa mafuyu telah tiada. Tapi. .. aku
yakin. . aku sangat yakin mafuyu masih ada disana. .” Kata miku
“sudah. . sudah. . sekarang tenangkan dirimu miku.
.aku yakin ia akan kembali, percaya padaku. .” kataku sambil menepuk kepala
miku
“terima kasih rei, aku sudah merasa enakan sekarang.
.” kata miku sambil tersenyum
“sama sama miku, apabila kamu ingin bercerita lagi. .
kamu tau harus mencari aku kemana..”
“kemana?” Tanya miku
“eh? Kamarku!” kataku
Kami berdua tertawa kecil.
Aku berjalan kembali ke kamarku. Segera aku merebahkan
badanku di atas kasur sambil berusaha mencari posisi yang enak untuk tidur.
“miku. . . mafuyu. .
aku tidak pernah menyangka ternyata miku juga sama sepertiku. .
.kehilangan salah seorang yang special..” pikirku
*cring**cring*
“tidak lagi. . .” kataku sambil mengusap mataku
Aku memperhatikan sekitarku, nampaknya aku berada di
lobi di rumah tua itu, namun kali ini agak sedikit berbeda. Langit langit
ruangan ini penuh lubang dan salju berjatuhan masuk ke dalam ruangan. Dan juga,
aku tidak dapat melihat lentera milik reika dimana mana.
“di.. dimana ini?” pikirku
Aku berjalan di sekitarku, salju disini terasa
dingin,berbeda dengan salju di rumah tua itu.aku mencoba membuka pintu yang
berada di sebelah kananku, berharap ada tempat yang lebih hangat. Aku memasuki
ruangan itu sambil menggesekkan tanganku pada bahuku karena kedinginan.
Pandanganku tidak dapat luput dari sebuah frame yang
pecah di depanku. Aku menunduk dan mengangkat frame foto tersebut.
“hi. . muro. .” kataku mengeja tulisan di foto itu.
“himuro. . inikah tempat. . yang miku ceritakan itu?”
kataku
*cring**cring*
Seorang pria yang mengenakan baju berwarna putih
dengan celana panjang dan rambut yang aga berantakan berjalan tepat di ujung
ruangan tersebut.
“Hey! Kamu yang disana. . .” kataku mencoba merebut
perhatiannya
Pria itu sama skali tidak menghiraukan aku, ia terus
tetap berjalan tanpa menengok kiri maupun kanan, pada akhirnya ia masuk ke
pintu yang berada di seberang ruangan itu.
“apakah. . itu. . mafuyu?” pikirku
Aku berlari menuju ruangan tempat mafuyu pergi tadi. Sesaat
sbelum aku membuka pintu itu.
*BRAK*
Pintu itu terbuka dan menabrakku hingga terjatuh ke
lantai.
“aduuh. . .” kataku sambil memegang kepalaku.
“re. . rei?”
Aku mengenali suara itu. .
“uhh.. miku?” kataku sambil berusaha untuk bangun
“Rei? Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya miku.
“aku tidak tahu. .apa yang kamu lakukan di tempat
seperti ini?” tanyaku sambil merapikan pakaianku.
“AAARGHHHH!!!!”
Kami berdua dikagetkan dengan suara teriakan seorang
pria.
“ma. . mafuyu? Mafuyu!!”jerit miku sambil berlari
menuju sumber teriakan itu.
“he. .hey!! Miku!! Tunggu!!” aku segera berlari
menyusul miku.
Kami berdua terus berlari melewati ruangan demi
ruangan, suara teriakan it uterus terdengar sepanjang lorong rumah itu.
Kami akhirnya tiba di sebuah ruangan berbentuk
lingkaran, dengan sebuah meja batu di tengahnya.
“ru. . ruangan apa ini?” Tanya miku
Aku tak bisa memalingkan pandanganku dari apa yang ada
di atas meja batu tersebut. Suatu benda yang tertutup kain putih dengan
bercakbercak kemerahan di sekitarnya.
“miku. . itu . .apa?” tanyaku
Secara perlahan, miku mendekati benda itu. Dari benda
yang tertutup kain tersebut menjulur 4 buah tali yang diikatkan pada tiang
tiang di pinggir meja batu tersebut, dan semuanya memiliki bercak kemerahan.
“jangan jangan. . .” kata miku sambil meraih ujung
kain penutup tersebut.
*sreek*
Selama beberapa detik kami terdiam. . .
“AAAAAAAA!!!!” jerit miku sambil memejamkan matanya
dan menutup telinganya.
Itu adalah mafuyu. .dengan kedua tangan dan kakinya
yang telah putus dari badannya.
Aku menutup mulutku sambil melotot memandangi tubuh
mafuyu yang sudah tidak bergerak lagi.
“Kkaaaaaaa!!!” teriak miku sambil berusaha naik ke
atas meja batu tersebut.
Miku langsung menangis sambil memeluk bagian tubuh
dari mafuyu tersebut.
“TIdaaak!!tidak seperti ini!! Tidaaaak!!!”teriak miku
sambil menangis hebat.
aku masih tetap tertahan di tempat sambil memandangi
miku dan mafuyu. Aku menundukkan kepalaku, keringat mulai bercucuran dari wajah
hingga leherku.
“kka!! Banguuun!!kka. .. tidak seperti ini kka. .”
kata miku sambil memeluk tubuh kkanya.
“mi. . .ku. .”
“ma. .fuyu? kka??” kata miku sambil menatap kkanya.
“ke. .napa? kenapa harus. .seperti ini?”
“kka. . bertahanlah!!” kata miku sambil berusaha
melihat sekitar
Aku mengelus bahu miku sambil berjongkok d sebelahnya.
Aku melihat mafuyu menatapku dengan tatapannya yang lemas.
“Rei!! Apa yang harus kita lakukan?? Cepat!! Sebelm .
.”
“ini semua. . salahmu. .” kata mafuyu
Aku kembali menatap mafuyu, namun kali ini ada yang
berbeda dari tatapannya.
“seharusnya. . kamu. . yang. . dikorbankan. .” kata
mafuyu sambil menatap miku
“kka? Kamu kenapa??” Tanya miku dengan paniknya
“kamu. . .kamu. . .kamu!!!”
Tiba tiba tubuh mafuyu mulai melayang di udara.
“aaaargh!! Miku hati hati!” kataku sambil menarik bahu
miku menjauh dari kkanya.
“mafuyu!! Tidaaaaaaak. . . .” jerit miku
Bagian tubuh mafuyu mulai berterbangan di udara,
beserta bagian tangan dan kakinya. Mafuyu kembali menatap kami berdua. .
“Karena kalian, aku matiii!!!!” teriak mafuyu sambil melayang
kea rah kami dengan kecepatan tinggi.
aku mencoba mendorong miku untuk melindunginya.
*brak*
“aaargh!!!” teriakku sambil menahan badan mafuyu yang
menabrak tubuhku di bagian perut.
“Siapa kamu???!!! Jangan mengganggu. .!!” katanya
sambil mendorongku
Aku terjatuh berguling guling dari meja batu tersebut,
penglihatanku terlihat samar, kepalaku serasa berputar setelah aku terjatuh dan
menabrak lantai yang sekeras batu tersebut.
Mafuyu dengan cepat terbang kea rah miku. .
Miku yang tak berdaya itu hanya diam saja disana sambil menangis.
Bagian tangan mafuyu menangkap kedua tangan miku,
begitu pula tali di bagian kaki mafuyu menangkap kedua kaki miku. Mafuyu mulai
merenggangkan tangan dan kaki miku.
“Mafuyu!!! Tidaaak. . .” jerit miku. .
“haaahahahahhaa. .
Mafuyu tidak . .disini. .” kata mafuyu
Tiba tiba wajah mafuyu tampak seperti meleleh, begitu
pula kulit di tangan dan kakinya.
Wujud mafuyu berubah. . menjadi seorang wanita
berambut panjang, berkimono putih, dengan banyak bekas darah di baju dan bagian
tubuhnya yang terpisah.
“semua itu. .salahmu!!!! tidak seharusnya aku. . mati.
.” kata wanita itu
“Miku!!! Tidaaaaaaak. . .: jeritku
*cring**cring*
“whoa!! “ jeritku
Badanku seketika tertarik sampai aku terduduk di
kasurku.
“haah.. haa.. .”
Aku berusaha mengatur nafasku, suara gemericik air hujan
mulai terdengar.
Aku meraba wajahku yang penuh dengan keringat.
“mimpi itu.. rumah itu. .miku. .”
*cring*
“aaaaargh!!!!” jeritku
Tato itu mulai tersebar kembali, mulai dari bahu
kananku, sampai turun hingga pinggangku. Tato itu bersinar kebiruan sambil
terus merambat.
Aku memegangi bahuku sambil menjerit.
Tato itu mulai merambat hingga perut, bagian depan,
serta kembali turun ke bawah pinggangku. Tato itu bersinar dan kemudian kembali
menghilang.
“haah. .haah. .apa. . apa apaan ini?” pikirku.
“AAAAAAA!!!”
Belum sempat aku mengatur nafasku dengan baik, sebuah
teriakan histeris terdengar olehku.
“haah. . siapa. .itu?” pikirku
Sekilas aku kembali teringat, akan mimpiku. .tentang
miku.
“mi.. ku? Apakah itu miku?” pikirku
Dengan cepat aku turun dari tempat tidurku, dan segera
berlari menuju kamar miku.
Suara jeritan itu kembali terdengar, aku sudah dapat
memastikan bahwa itu adalah suara miku.
“Miku!!!” teriakku sambil mencoba membuka pintu
kamarnya
“AAAAAA!!!”
“Miku!! Bukakan kuncinya!!” teriakku
Karena tidak ada jawaban dari dalam, aku memutuskan
untuk mendobrak pintu tersebut.
Beberapa kali aku mencoba mendorong pintu tersebut,
namun percuma. . pintu itu sekeras batu, seperti ada beberapa orang yang
menahan dari balik pintu tersebut.
“miku. . . bukakan pintunya. .” kataku
continued part 9
-Please. . Let me. . go. .-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar