Rabu, 12 November 2014

the 7th part 3

Chapter 3
-    1st Gate, are. . you there?? -

Tidak terasa sudah sejam aku berendam, sambil menangisi Keanu.

“uh. . apakah itu semua mungkin? “ pikirku sambil membasuh wajahku dengan air dingin.
Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 7 malam

Aku langsung masuk kamar setelah selesai berendam, aku rapikan baju mandiku, aku langsung mencoba menyalakan konsol yang dulu diberikan Keanu sebagai hadiah kelulusan ku. Konsol itu sudah lama sekali tidak kusentuh lagi, apalagi semenjak hilangnya Keanu. Aku mengambil sebuah tissue untuk membersihkannya sedikit sambil menunggu ia menyala.

Karena merasa tidak nyaman, aku memutuskan untuk berganti pakaian terlebih dahulu dan kembali sambil mengeringkan rambut panjangku dengan handuk.


 “apakah benar benar bisa?” pikirku, teringat akan komentar komentar orang di blog tadi
Tanpa menunggu lama lagi, aku segera menyalakan konsol itu dan mengambil kotak kaset itu. Sekilas aku memandangi cover game itu, cover game itu hanyalah terdiri dari sebuah kotak bertuliskan the 7th, dengan sebuah bayangan hitam di belakangnya serta pepohonan seperti hutan pada latarnya.

Aku menggelengkan kepalaku, mencoba untuk berfokuskan untuk mencoba permainan itu. Maka aku pun segera memasukkan CD game itu.

Layar pertama yang muncul ialah seperti biasa yaitu logo dari konsolku, aku menyilangkan jariku, berharap game itu akan berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkan di blog. Hingga layar berikutnya pun muncul. .

“A game By Michael Suzuki”

“based on true story “

“b. .bisa? a. .ajaib. .” pikirku

Tak kusangka perintah dari orang tak dikenal di blog itu benar benar bekerja. Permainan itu dimulai dengan potongan potongan film yang biasanya merupakan bagian dari game itu sendiri. Aku hanya dapat melihat sekilas beberapa potongan film seperti teriakan, pepohonan, beberapa lentera yang menyala, dan lainnya. beberapa saat kemudian, aku di perintahkan untuk membuat seorang karakter baru, tanpa berlama lama aku langsung membuatnya,game ini memang aneh, dalam pemuatan karakter. Pertama aku harus memasukan nama

“Yuri “ aku mengisinya
Jenis kelamin
“wanita “ isiku
Astrologi
“a..astrologi?? baru kali ini aku memainkan game ditanya mengenai astrologi” aku hanya menggelengkan kepala dan mengisinya.

Setelah selesai mengisi info game ini kembali menampilkan flashback cerita yang diambil dari game ini.

Camera dibuat menjadi pandangan orang pertama, dimana kamera itu bergerak cepat menampilkan masa masa sebelumnya, banyak teriakan dan ucapan mantra dalam video flashback itu.
Tiba tiba layar menjadi gelap, dan muncul sebuah petunjuk di box kiri layar
“apakah kamu siap, YURI?”

“huh??”

Belum sempat aku berpikir panjang, tiba tiba layar menjadi putih dan sangat menyilaukan, seperti ada cahaya yang sedang keluar dari televisiku.

“AAAaaaaaagh. . .” jeritku sambil menutup mataku dan menghalau sinar itu.

Tiba tiba sekelilingku terdengar seperti ada angin yang bertiup sangat kencang melewati seluruh isi kamarku. Aku terus menjerit sambil menutup mataku. .

“ . . Haah!!. .haah. .hah. .”

Tiba tiba semua terasa tenang, aku dapat merasakan hembusan angina yang lembut di wajah dan seluruh tubuhku. Secara perlahan aku menyingkirkan tangan dan membuka mataku, pemandangan di sekitarku berubah total. aku terdiam di sebuah pintu besar yang menyerupai pintu sebuah kuil. Pintu itu terlihat sangat tua dan dipenuhi dengan tumbuhan menjalar dan dedaunan pada pijakannya. Aku memandang ke arah langit, sebuah bulan yang tampak sangat besar menyinari sekelilingku

“eugh… “ ucapku sambil memegang dadaku
“di..di mana a..ku? “ ucapku terbata
 “tempat apa ini?“

Aku melirik ke kiri dan kekanan, tapi tempat ini sangat sepi. Aku hanya dapat mendengar suara dedaunan yang berjatuhan karena tertiup angina.

Aku memberanikan diri melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam pintu itu .langkahku terhenti setelah melihat keadaan di dalam pintu ini, sebuah hutan lebat dan gelap.

Tiba tiba aku mendengar sebuah suara di kepalaku

“dengan ini …. Maka ritual telah dimulai “
“a..apa? apa . .maksudnya semua ini? “ ucapku

Aku hanya melihat di depanku banyak semak belukar yang menutup jalan di depannya, aku berjalan perlahan dengan menyingkirkan semak semak yang menghalangiku.

“aku menemukannya !!!!”

Aku dikagetkan oleh suara anak kecil yang tiba tiba muncul dari depan. aku sempat mundur beberapa langkah sampai akhirnya pemilik suara itu menunjukkan dirinya dari semak semak. Ternyata hanya seorang anak lelaki, dengan kulit yang agak pucat dan terlihat ketakutan.

“si..siapa kamu? “ kataku perlahan

Anak itu mendekatiku, dan aku menghentikan langkahku

“ka..kaa..kamu kenapa?” tanyaku sambil tetap menjaga jarak

“Kaka sedang bersembunyi kan? “ Tanya anak itu, masih dengan badan yang gemetar ketakutan

“….”

“kaka sedang bersembunyi kan? “ tanyanya lagi tapi kali ini sambil menangis

“ber. .bersembunyi? dari siapa?” kataku sambil menunjukkan ekspressi kebingungan

“apa yang terjadi kepada anak ini?” aku bertanya pada diriku sendiri

Saat aku melamun tiba – tiba anak itu berbicara lagi

“aku disini untuk mencari seseorang yang bersembunyi di hutan pertama “ katanya
“hu.. hutan pertama ?” Tanya ku

“kaka benar kan orang yang saya cari “ ucapnya memelas

“i..iya” jawabku, karena tidak tega melihat anak itu menagis

Anak itu segera menghapuskan air matanya sambil melemparkan sebuah senyuman kepadaku, aku yang tidak tahu apa apa hanya bisa membalas senyumannya.

Akhirnya kami memutuskan untuk jalan bersama sama. Anak itu terlihat sibuk memegangi sebuah lentera berwarna kemerahan dengan gagang kayu seperti lentera lentera pada jaman dahulu.

“i..itu lentera ditanganmu dimana kamu mendapatkannya?” tanyaku sambil menunjuk lentera yang berada di tangan anak itu.
“ini aku dapatkan dari orang yang menyuruhku mencarimu, orang itu bilang ini dapat menjauhkanmu dari roh jahat” jelasnya

“roh jahat?“ ucapku sambil terus berjalan dan melirik ke kiri dan ke kanan.
“aaaaaa….aaaaa”

Aku langsung berbalik dan melihat anak itu sudah tidak ada lagi, aku lihat ke atas hanya ada suara teriakan tadi, teriakan itu menggema dan ada di mana mana

Aku langsung terduduk di pinggir pohon besar, aku pejamkan kedua mataku dan menutp telingaku dengan kedua tanganku.
“stoooooooop……” teriakku

“kamu dimana? “ aku mendengar suara anak itu lagi tapi sedikit samar-samar
“ayo jangan bersembunyi dariku “ katanya

Aku perlahan memberanikan diri membuka mata dan telingaku, saat aku melihat ke kiri tiba tiba aku terkejut melihat muka anak itu tepat didepan muka ku. Aku langsung berdiri dan menjauhi  pohon itu dan memutar pandanganku kesebelah kanan.

Anak itu sangat pucat dan tidak memiliki bola mata, anak itu mendekat tapi tidak berjalan melainkan melayang.

Aku terus menjerit sambil berlari secepat yang aku bisa, tapi aku tidak berhasil menjauhinya, anak itu kemudian menangkap kakiku sehingga aku terjatuh.

“AAgh. . lepas.. lepaskan aku “ teriakku

anak itu naik ke atas tubuhku sambil meraih leherku dengan genggaman tangannya.
“t. .tidak. .lepaskan. .” jeritku

Anak itu tertawa sambil mencekikku dengan kuat. Meskipun ia terlihat seperti seorang anak kecil, namun kekuatan cekikannya sungguh menyakitkan.

“uhuk. . ugh. .j. jangan. .” kataku sambil berusaha melepaskan genggamannya.
Aku mengumpulkan sisa tenagaku untuk mendorong anak itu dari tubuhku dengan hentakan kakiku. Anak itu terlempar dari tubuhku dan menghilang di semak semak.

Aku berusaha untuk berdiri dan berjalan menjauhi tempat itu. Aku berlari secepat yang aku bisa hingga akhirnya aku sampai di sebuah dataran tinggi yang sedikit curam.dengan cepat, Aku menuju ke belakang sebuah batu di tebing itu.

“huh…huh” ucapku di sela nafas yang tidak tratur

“kaka kamu dimana? “

Belum sempat aku beristirahat sejenak, suara anak itu terdengar semakin mendekati posisiku. Aku menempelkan tubuhku pada sisi batu tempat aku bersembunyi.

“apakah kamu disana?? Kakaaak. . kakaaaaak. . “ kata anak itu

aku mencoba untuk mengatur nafasku sambil melirik ke kiri dan kanan, mencari cara agar anak itu tidak menemukanku. Sesaat aku menoleh ke pinggir batu, anak itu tiba tiba menembus dinding batu itu dan mendorongku menuju pinggir tebing itu. Aku yang terkaget tidak mampu menahan dorongan anak itu, pada akhirnya aku terjatuh sambil menjerit hebat.

 “aaaaaa…aaaaa..aaaa”

Tubuhku terguling guling menuruni tebing itu sambil sesekali menabrak bebatuan yang tajam di sisi tebing itu. Jeritan panjangku akhirnya berakhir ketika aku hamper tak sadarkan diri di kaki tebing itu. Aku terkapar, rasa perih mulai bermunculan di seluruh tubuhku. Aku dapat melihat beberapa bercak kemerahan perlahan lahan muncul dari balik pakaianku yang juga sobek sobek di beberapa bagiannya.

“akh.. sa..sakit” ucapku

secara perlahan aku mencoba untuk bangun, namun hal itu sia sia, seluruh tubuhku tampak seperti mati rasa dan tak bisa kugerakkan.  Sekali lagi aku dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang menyeramkan tepat di depanku. Aku melihat mayat seseorang yang telah menjadi tulang belulang. Sebuah potongan ranting pohon besar terlihat menembus kepalanya.

Tiba tiba ada sebuah benda yang mulai bersinar di dekat tumpukkan tulang itu, itu seperti lentera yang dibawa oleh anak tadi.

“le. Lentera. . mengusir roh jahat. .” pikirku teringat akan perkataan anak itu.
Tanpa berpikir panjang lagi aku mencoba untuk meraihnya.

Di saaat yang bersamaan, suara anak kecil itu kembali terdengar tidak jauh dari lokasiku. Aku mencoba menjulurkan tanganku untuk meraihnya, namun aku hanya dapat menyentuhnya saja.
 “aku. . .menemukanmu. .”

Anak itu muncul tepat di belakangku. Secara perlahan, tampilan anak itu berubah menjadi pucat dan berlumuran darah pada bagian kepalanya. Aku menghentakkan seluruh tubuhku yang terbaring di tanah dan meraih lentera itu. Dengan cepat aku mengarahkannya ke wajah anak itu. Lentera itu bersinar lebih terang dari sebelumnya.




“AAAAARGH!!!!” anak itu berteriak sambil menutupi wajahnya
“akh..hahh..huh..”  suara nafasku yang tidak teratur karena rasa sakit yang mendalam
Asap keputihan mulai muncul dari tubuh anak itu seakan akan tubuhnya terbakar. Aku hanya bisa memandanginya saja sambil tetap mengangkat lentera itu. Tubuh anak itu mulai menghilang bersamaan dengan asap yang semakin lama semakin menebal.

Selama beberapa menit aku mencoba untuk berdiri dan berjalan sambil memegangi lututku yang berlumuran darah akibat terjatuh tadi. Dari kejauhan aku melihat sebuah tempat persembahan kecil yang terdapat benda berkilauan di atasnya. Semakin mendekatinya, benda itu semakin jelas seperti sebuah koin atau pin yang dibalut dengan kertas bertuliskan sesuatu seperti mantra. Sesaat setelah aku mengambilnya, suara suara itu kembali muncul di kepalaku.

 “tahap pertama. . sudah selesai. . “

“hah??”

Sesaat setelah suara itu muncul, aku membuka mataku lebar lebar sambil memandangi sekitarku.
Semua pepohonan, tebing itu menghilang, digantikan oleh pemandangan kamarku. Aku melirik sekitarku selama beberapa saat sebelum akhirnya terpaku memandangi layar televisiku yang bertuliskan

“level. . complete. .”

Aku merasa tubuhku sakit, aku lihat sekujur tubuhku penuh dengan luka goresan, dan lutut ku yang bercucuran darah. Aku meringis sambil menutupi luka di lututku
“a. .apa yang terjadi pada diriku? Ke. Kenapa semuanya menjadi nyata?  “ pikirku kebingungan

To Be Continue  
Part 4
“It’s real!!”






Tidak ada komentar: