Chapter 3
-
1st Gate, are. . you there?? -
Tidak terasa sudah sejam aku berendam,
sambil menangisi Keanu.
“uh. . apakah itu semua mungkin? “
pikirku sambil membasuh wajahku dengan air dingin.
Waktu saat itu sudah menunjukkan
pukul 7 malam
Aku langsung masuk kamar setelah
selesai berendam, aku rapikan baju mandiku, aku langsung mencoba menyalakan
konsol yang dulu diberikan Keanu sebagai hadiah kelulusan ku. Konsol itu sudah
lama sekali tidak kusentuh lagi, apalagi semenjak hilangnya Keanu. Aku
mengambil sebuah tissue untuk membersihkannya sedikit sambil menunggu ia
menyala.
Karena merasa tidak nyaman, aku
memutuskan untuk berganti pakaian terlebih dahulu dan kembali sambil
mengeringkan rambut panjangku dengan handuk.
“apakah benar benar bisa?” pikirku, teringat
akan komentar komentar orang di blog tadi
Tanpa menunggu lama lagi, aku
segera menyalakan konsol itu dan mengambil kotak kaset itu. Sekilas aku
memandangi cover game itu, cover game itu hanyalah terdiri dari sebuah kotak
bertuliskan the 7th, dengan sebuah bayangan hitam di belakangnya
serta pepohonan seperti hutan pada latarnya.
Aku menggelengkan kepalaku, mencoba
untuk berfokuskan untuk mencoba permainan itu. Maka aku pun segera memasukkan
CD game itu.
Layar pertama yang muncul ialah
seperti biasa yaitu logo dari konsolku, aku menyilangkan jariku, berharap game
itu akan berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkan di blog. Hingga layar
berikutnya pun muncul. .
“A game By Michael Suzuki”
“based on true story “
“b. .bisa? a. .ajaib. .” pikirku
Tak kusangka perintah dari orang
tak dikenal di blog itu benar benar bekerja. Permainan itu dimulai dengan
potongan potongan film yang biasanya merupakan bagian dari game itu sendiri.
Aku hanya dapat melihat sekilas beberapa potongan film seperti teriakan, pepohonan,
beberapa lentera yang menyala, dan lainnya. beberapa saat kemudian, aku di
perintahkan untuk membuat seorang karakter baru, tanpa berlama lama aku
langsung membuatnya,game ini memang aneh, dalam pemuatan karakter. Pertama aku
harus memasukan nama
“Yuri “ aku mengisinya
Jenis kelamin
“wanita “ isiku
Astrologi
“a..astrologi?? baru kali ini aku
memainkan game ditanya mengenai astrologi” aku hanya menggelengkan kepala dan
mengisinya.
Setelah selesai mengisi info game
ini kembali menampilkan flashback cerita yang diambil dari game ini.
Camera dibuat menjadi pandangan
orang pertama, dimana kamera itu bergerak cepat menampilkan masa masa
sebelumnya, banyak teriakan dan ucapan mantra dalam video flashback itu.
Tiba tiba layar menjadi gelap, dan
muncul sebuah petunjuk di box kiri layar
“apakah kamu siap, YURI?”
“huh??”
Belum sempat aku berpikir panjang, tiba
tiba layar menjadi putih dan sangat menyilaukan, seperti ada cahaya yang sedang
keluar dari televisiku.
“AAAaaaaaagh. . .” jeritku sambil
menutup mataku dan menghalau sinar itu.
Tiba tiba sekelilingku terdengar
seperti ada angin yang bertiup sangat kencang melewati seluruh isi kamarku. Aku
terus menjerit sambil menutup mataku. .
“ . . Haah!!. .haah. .hah. .”
Tiba tiba semua terasa tenang, aku
dapat merasakan hembusan angina yang lembut di wajah dan seluruh tubuhku.
Secara perlahan aku menyingkirkan tangan dan membuka mataku, pemandangan di
sekitarku berubah total. aku terdiam di sebuah pintu besar yang menyerupai
pintu sebuah kuil. Pintu itu terlihat sangat tua dan dipenuhi dengan tumbuhan
menjalar dan dedaunan pada pijakannya. Aku memandang ke arah langit, sebuah
bulan yang tampak sangat besar menyinari sekelilingku
“eugh… “ ucapku sambil memegang dadaku
“di..di mana a..ku? “ ucapku
terbata
“tempat apa ini?“
Aku melirik ke kiri dan kekanan,
tapi tempat ini sangat sepi. Aku hanya dapat mendengar suara dedaunan yang
berjatuhan karena tertiup angina.
Aku memberanikan diri melangkahkan
kakiku untuk masuk kedalam pintu itu .langkahku terhenti setelah melihat
keadaan di dalam pintu ini, sebuah hutan lebat dan gelap.
Tiba tiba aku mendengar sebuah
suara di kepalaku
“dengan ini …. Maka ritual telah
dimulai “
“a..apa? apa . .maksudnya semua ini?
“ ucapku
Aku hanya melihat di depanku banyak
semak belukar yang menutup jalan di depannya, aku berjalan perlahan dengan
menyingkirkan semak semak yang menghalangiku.
“aku menemukannya !!!!”
Aku dikagetkan oleh suara anak
kecil yang tiba tiba muncul dari depan. aku sempat mundur beberapa langkah
sampai akhirnya pemilik suara itu menunjukkan dirinya dari semak semak.
Ternyata hanya seorang anak lelaki, dengan kulit yang agak pucat dan terlihat
ketakutan.
“si..siapa kamu? “ kataku perlahan
Anak itu mendekatiku, dan aku
menghentikan langkahku
“ka..kaa..kamu kenapa?” tanyaku sambil
tetap menjaga jarak
“Kaka sedang bersembunyi kan? “
Tanya anak itu, masih dengan badan yang gemetar ketakutan
“….”
“kaka sedang bersembunyi kan? “
tanyanya lagi tapi kali ini sambil menangis
“ber. .bersembunyi? dari siapa?”
kataku sambil menunjukkan ekspressi kebingungan
“apa yang terjadi kepada anak ini?”
aku bertanya pada diriku sendiri
Saat aku melamun tiba – tiba anak
itu berbicara lagi
“aku disini untuk mencari seseorang
yang bersembunyi di hutan pertama “ katanya
“hu.. hutan pertama ?” Tanya ku
“kaka benar kan orang yang saya
cari “ ucapnya memelas
“i..iya” jawabku, karena tidak tega
melihat anak itu menagis
Anak itu segera menghapuskan air
matanya sambil melemparkan sebuah senyuman kepadaku, aku yang tidak tahu apa
apa hanya bisa membalas senyumannya.
Akhirnya kami memutuskan untuk
jalan bersama sama. Anak itu terlihat sibuk memegangi sebuah lentera berwarna kemerahan
dengan gagang kayu seperti lentera lentera pada jaman dahulu.
“i..itu lentera ditanganmu dimana
kamu mendapatkannya?” tanyaku sambil menunjuk lentera yang berada di tangan
anak itu.
“ini aku dapatkan dari orang yang
menyuruhku mencarimu, orang itu bilang ini dapat menjauhkanmu dari roh jahat”
jelasnya
“roh jahat?“ ucapku sambil terus
berjalan dan melirik ke kiri dan ke kanan.
“aaaaaa….aaaaa”
Aku langsung berbalik dan melihat
anak itu sudah tidak ada lagi, aku lihat ke atas hanya ada suara teriakan tadi,
teriakan itu menggema dan ada di mana mana
Aku langsung terduduk di pinggir
pohon besar, aku pejamkan kedua mataku dan menutp telingaku dengan kedua
tanganku.
“stoooooooop……” teriakku
“kamu dimana? “ aku mendengar suara
anak itu lagi tapi sedikit samar-samar
“ayo jangan bersembunyi dariku “
katanya
Aku perlahan memberanikan diri
membuka mata dan telingaku, saat aku melihat ke kiri tiba tiba aku terkejut
melihat muka anak itu tepat didepan muka ku. Aku langsung berdiri dan
menjauhi pohon itu dan memutar
pandanganku kesebelah kanan.
Anak itu sangat pucat dan tidak
memiliki bola mata, anak itu mendekat tapi tidak berjalan melainkan melayang.
Aku terus menjerit sambil berlari
secepat yang aku bisa, tapi aku tidak berhasil menjauhinya, anak itu kemudian
menangkap kakiku sehingga aku terjatuh.
“AAgh. . lepas.. lepaskan aku “
teriakku
anak itu naik ke atas tubuhku
sambil meraih leherku dengan genggaman tangannya.
“t. .tidak. .lepaskan. .” jeritku
Anak itu tertawa sambil mencekikku
dengan kuat. Meskipun ia terlihat seperti seorang anak kecil, namun kekuatan
cekikannya sungguh menyakitkan.
“uhuk. . ugh. .j. jangan. .” kataku
sambil berusaha melepaskan genggamannya.
Aku mengumpulkan sisa tenagaku
untuk mendorong anak itu dari tubuhku dengan hentakan kakiku. Anak itu
terlempar dari tubuhku dan menghilang di semak semak.
Aku berusaha untuk berdiri dan
berjalan menjauhi tempat itu. Aku berlari secepat yang aku bisa hingga akhirnya
aku sampai di sebuah dataran tinggi yang sedikit curam.dengan cepat, Aku menuju
ke belakang sebuah batu di tebing itu.
“huh…huh” ucapku di sela nafas yang
tidak tratur
“kaka kamu dimana? “
Belum sempat aku beristirahat
sejenak, suara anak itu terdengar semakin mendekati posisiku. Aku menempelkan
tubuhku pada sisi batu tempat aku bersembunyi.
“apakah kamu disana?? Kakaaak. .
kakaaaaak. . “ kata anak itu
aku mencoba untuk mengatur nafasku
sambil melirik ke kiri dan kanan, mencari cara agar anak itu tidak menemukanku.
Sesaat aku menoleh ke pinggir batu, anak itu tiba tiba menembus dinding batu
itu dan mendorongku menuju pinggir tebing itu. Aku yang terkaget tidak mampu
menahan dorongan anak itu, pada akhirnya aku terjatuh sambil menjerit hebat.
“aaaaaa…aaaaa..aaaa”
Tubuhku terguling guling menuruni
tebing itu sambil sesekali menabrak bebatuan yang tajam di sisi tebing itu.
Jeritan panjangku akhirnya berakhir ketika aku hamper tak sadarkan diri di kaki
tebing itu. Aku terkapar, rasa perih mulai bermunculan di seluruh tubuhku. Aku
dapat melihat beberapa bercak kemerahan perlahan lahan muncul dari balik
pakaianku yang juga sobek sobek di beberapa bagiannya.
“akh.. sa..sakit” ucapku
secara perlahan aku mencoba untuk
bangun, namun hal itu sia sia, seluruh tubuhku tampak seperti mati rasa dan tak
bisa kugerakkan. Sekali lagi aku
dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang menyeramkan tepat di depanku. Aku
melihat mayat seseorang yang telah menjadi tulang belulang. Sebuah potongan
ranting pohon besar terlihat menembus kepalanya.
Tiba tiba ada sebuah benda yang
mulai bersinar di dekat tumpukkan tulang itu, itu seperti lentera yang dibawa
oleh anak tadi.
“le. Lentera. . mengusir roh jahat.
.” pikirku teringat akan perkataan anak itu.
Tanpa berpikir panjang lagi aku
mencoba untuk meraihnya.
Di saaat yang bersamaan, suara anak
kecil itu kembali terdengar tidak jauh dari lokasiku. Aku mencoba menjulurkan
tanganku untuk meraihnya, namun aku hanya dapat menyentuhnya saja.
“aku. . .menemukanmu. .”
Anak itu muncul tepat di belakangku.
Secara perlahan, tampilan anak itu berubah menjadi pucat dan berlumuran darah
pada bagian kepalanya. Aku menghentakkan seluruh tubuhku yang terbaring di
tanah dan meraih lentera itu. Dengan cepat aku mengarahkannya ke wajah anak
itu. Lentera itu bersinar lebih terang dari sebelumnya.
“AAAAARGH!!!!” anak itu berteriak
sambil menutupi wajahnya
“akh..hahh..huh..” suara nafasku yang tidak teratur karena rasa
sakit yang mendalam
Asap keputihan mulai muncul dari
tubuh anak itu seakan akan tubuhnya terbakar. Aku hanya bisa memandanginya saja
sambil tetap mengangkat lentera itu. Tubuh anak itu mulai menghilang bersamaan
dengan asap yang semakin lama semakin menebal.
Selama beberapa menit aku mencoba
untuk berdiri dan berjalan sambil memegangi lututku yang berlumuran darah
akibat terjatuh tadi. Dari kejauhan aku melihat sebuah tempat persembahan kecil
yang terdapat benda berkilauan di atasnya. Semakin mendekatinya, benda itu
semakin jelas seperti sebuah koin atau pin yang dibalut dengan kertas
bertuliskan sesuatu seperti mantra. Sesaat setelah aku mengambilnya, suara
suara itu kembali muncul di kepalaku.
“tahap pertama. . sudah selesai. . “
“hah??”
Sesaat setelah suara itu muncul,
aku membuka mataku lebar lebar sambil memandangi sekitarku.
Semua pepohonan, tebing itu
menghilang, digantikan oleh pemandangan kamarku. Aku melirik sekitarku selama
beberapa saat sebelum akhirnya terpaku memandangi layar televisiku yang
bertuliskan
“level. . complete. .”
Aku merasa tubuhku sakit, aku lihat
sekujur tubuhku penuh dengan luka goresan, dan lutut ku yang bercucuran darah.
Aku meringis sambil menutupi luka di lututku
“a. .apa yang terjadi pada diriku?
Ke. Kenapa semuanya menjadi nyata? “ pikirku
kebingungan
To Be Continue
Part 4
“It’s real!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar